Mencoba Hidup Minimalis, Decluttering Barang Untuk Cegah Timbunan Barang

Dear Teman,

Siapa yang punya cita-cita hidup minimalis, rumah rapi tapi hobinya menimbun barang? Haha. Sejak zaman aku masih sekolah aku adalah penimbun atau hoarder barang. Banyak barang yang kukoleksi sejak zaman sekolah mulai dari koleksi buku cerita , majalah, pensil, penghapus, perangko hingga korek api. Nggak heran, aku masih punya surat dan kartu pos dari gebetan zaman SMP, wkwk. Beneran penimbun kan!

Setelah menikah, kebiasaan menimbun ini tetap sama. Aku suka membeli pernak-pernik untuk mendekor rumah, peralatan bayi dan lainnya. Aku bahkan memulai koleksi kartu pos hasil postcrossing

Baca Juga: Tips Hidup Minimalis 

Mencoba Hidup Minimalis, Decluttering Barang Untuk Cegah Timbunan Barang

Banyak uang yang kukeluarkan untuk melengkapi koleksiku. Menyesal deh, kenapa aku nggak hobi koleksi uang. Kalau begitu, sekarang aku sudah kaya raya hihi. Kebiasaan menimbun ini makin menjadi saat kami pindah ke rumah baruku yang mungil. Rumah tipe 45 ini jadi penuh sesak dengan peralatan rumah tangga, buku-buku serta baju. Rasanya pengap.

Hidup Minimalis, Decluttering Barang Untuk Cegah Timbunan Barang


Hingga pada suatu titik, aku ingin berubah. Menimbun barang ternyata berpengaruh pada kondisi mentalku. Dan saat membaca berbagai buku tentang hidup minimalis misalnya buku Good Bye Things Fumio Sasaki, Seni Hidup minimalis karya Francine Jay, dan The Life Changing of Tidying Up karya Marie Kondo,  ya.  keadaan rumah kita mempengaruhi kesehatan mental kita dong. 

Baca Juga: Cara Belanja Online di Ikea

Ya, barang yang tak digunakan menjadi beban untuk kita. Ajaran Islam pun begitu ya, setiap barang yang kita miliki akan dihisab kelak. Jika rumah kita rapi maka perasaan kita akan lebih ringan, dan bahagia. 

Setelah renovasi rumah tahun lalu, aku mulai menjalankan misiku. Aku ingin menjalankan hidup minimalis. Aku suka menonton video tentang hidup minimalis Grace Shinta di YouTube. Menurutnya, hidup minimalis bukan berarti tidak membutuhkan barang tapi bisa menggunakan barang sebaik mungkin sesuai kebutuhan. 

Yang aku catat juga dari hasil membaca buku metode Konmari ala Maria Kondo seorang konsultan kebersihan dari Jepang yang diterbitkan Mizan yaitu The Life Changing of Tidying Up, semua barang harus memiliki rumah atau tempat penyimpanan. Jadi, rumah akan lebih rapi. Panduan Marie Kondo untuk beberes barang adalah Does it sparks joy? Apakah barang ini masih menyenangkan untuk digunakan? Apakah barang ini bermanfaat? Kalau jawabannya tidak berarti sudah waktunya barang itu kita singkirkan. 

Untuk yang hobi menyimpan barang kenangan, Fumio Sasaki memberi ide di bukunya. Foto semua barang kenangan itu, dan singkirkan barang-barangnya. Kalau kamu kangen barang-barang itu, lihatlah foto-fotonya di ponselmu. Oh, beraaat!

Walaupun, tidak 100% bisa kita terapkan ya. Suamiku hobi menimbun.Ia malah menyimpan mainan Nailah katanya untuk anaknya Nailah nanti. Jengjeng.  Alasannya, suatu saat barang itu kita butuhkan. Itulah kenapa dia menyimpannya. Iya, sih. Kadang tiba-tiba anak butuh peralatan prakarya dan kita buka gudang untuk mencarinya. Orang Indonesia banget yaa. Eman barang karena khawatir suatu saat butuh.  Lalu, rayap datang menyerang, hancurlah semua barang dan rak tempat dia menimbun. Hiks.

Mulailah aku menjalankan proses decluttering yaitu membuang barang yang tidak terpakai. Kalau aku yang dulu, mungkin takkan mampu melakukan decluttering ini. Pasti banyak barang yang tak tega aku buang. Namun karena aku bertekad untuk berubah, aku pun memaksa diri.

Menurut Grace Shinta, proses beberes decluttering harus per ruangan secara sistematis dan tidak acak. Misalnya, hari ini membersihkan kamar tidur hingga selesai baru besok lanjut dapur. Agar proses decluttering cepat selesai. Kalau Marie Kondo, menyarankan untuk decluttering berdasarkan jenis barang seperti pakaian, buku, peralatan dapur dan lainnya.

Nah inilah yang aku lakukan setelah rumah selesai direnovasi September tahun lalu. 

I. Decluttering peralatan dapur

Saat renovasi, kami membangun dapur baru di bagian belakang rumah. Kami juga jadi punya pintu samping yang ternyata bermanfaat banget. Mama memberikan rice cooker untukku. Mamaku juga memberi hadiah kitchen set untuk dapur mungilku. Kami memesan kitchen set di Handoyo Kitchen Set di Banyumanik. Alhamdulillah, dapur yang tadinya pakai tirai kain ala Instagram jadi lebih cakep dan rapi. 

Hidup Minimalis, Decluttering Barang Untuk Cegah Timbunan Barang

Tapi, barang-barang tidak cukup untuk disimpan di rak dapur yang baru. Aku pun melakukan decluttering dengan kejam. Aku menyingkirkan banyak peralatan dapur yang selama ini aku timbun yang aku dapatkan dari Mamaku dan ibu mertuaku. Hiks, aku membuang gelas bekas suvenir pernikahan, piring hadiah sabun cuci, aneka wadah plastik, botol minum, rak plastik, hingga wajan berkuping satu dan cobek batu yang sudah aus! 

Ratu tega deh. Aku bahkan membuang barang ini diam-diam di bak sampah komplek karena suamiku yang juga penimbun akan mengomel dan mengembalikan barang yang kubuang si tempatnya. Ya, dia takut mubazir dan boros. Tahun lalu, ia kena getahnya. Barang-barang yang ia simpan dengan penuh kasih sayang diserbu rayap dan hancur termasuk kitchen set lama kami yang usianya sudah belasan tahun.

Ya, membuang barang bisa jadi boros dan mubazir. Tapi, menyimpan barang yang tidak terpakai juga termasuk mubazir kan? Lebih baik, barang yang tak terpakai diberikan ke orang yang lebih membutuhkan malah berpahala. Tak sampai dua jam, barang-barang yang kubuang diangkut pemulung. Panen raya mereka ya, hehe. Perasaanku jauh lebih lapang. Alhamdulillah, dapurku akhirnya memuat barang yang kubutuhkan dan kupakai sehari-hari. Nggak ada lagi timbunan barang di rak kitchen set. 

2. Decluttering Buku-Buku

Kalau decluttering buku-buku, sudah rutin kulakukan. Apalagi, saat aku rutin beli buku cetak. Rak buku jadi penuh dan nggak ada lagi tempat untuk buku baru dan bukti terbit. 

Hidup Minimalis, Decluttering Barang Untuk Cegah Timbunan Barang
Merapikan rak buku

Walhasil, aku rajin memilah buku-buku yang sudah tidak dibaca lagi dan menyumbangkannya ke berbagai taman bacaan buku-buku yang kusimpan di ruang belajarku yang baru, benar-benar buku yang aku koleksi dan butuhkan untuk bahan mengajar kelas menulis, misalnya. 


Sekarang aku lebih banyak baca buku digital tapi masih sering dikirimi buku-buku baru dari penerbit untuk diresensi jadi tetap butuh decluttering berkala.

3. Decluttering mainan anak

Anak-anakku punya mainan, buku, sepatu, dan tas berlimpah hadiah dari almarhum adikku dan orang tuaku. Barang yang tak terpakai menumpuk di kamarnya yang baru. Aku pun bertindak. 

Hidup Minimalis, Decluttering Barang Untuk Cegah Timbunan Barang

Kami mengumpulkan mainan dan pernak-pernik yang tak terpakai lagi ternyata banyak sekali. Selain aku berikan untuk anaknya satpam, pekerja bangunan juga kusumbangkan ke guru Nailah yang ingin membuka TK di kampung halamannya. Alhamdulillah, jadi bermanfaat ya.

4. Decluttering pakaian bekas 

Ini yang paling berat karena satu lemari besar hanya memuat baju-bajuku saja. Hehe. Setelah decluttering pakaian anak-anak, aku memulai decluttering isi lemari ku. Berat banget karena banyak pakaian yang sayang kubuang dan akhirnya balik lagi ke rak padahal sudah lama tak dipakai atau sudah bosan pakainya saking seringnya dipakai. 

Hidup Minimalis, Decluttering Barang Untuk Cegah Timbunan Barang

Selain baju, aku juga memilah aneka jilbab. Banyak jilbab yang sudah terlalu lama dipakai, sampai bosan. Tak disangka, ada tiga kantong plastik besar pakaian dan dua kantong hijab. Selain pakaian, ada juga aneka seprai, handuk dan lainnya. Setelah pembersihan besar-besaran, lemariku jadi lebih lega dan rapi. Siap menampung baju baru, haha. Maunya ya.

Alhamdulillah, berkat kegiatan decluttering rutin kami menempati rumah yang baru selesai direnovasi dengan lebih nyaman. Tak ada barang menumpuk lagi di sudut kamar. Setiap barang punya tempat penyimpanannya. Jika ingin rapi, pastikan setelah selesai pakai barang kembalikan ke tempatnya. Hasilnya, Rumah jadi lebih rapi, terasa lapang dan lebih nyaman. Tak ada lagi kecoa dan tikus mengganggu. Semoga suasana rapi jali ini bisa dipertahankan ya hehe. 

Sumber Foto: Pribadi dan Pixabay.com





Dewi Rieka

Seorang penulis buku, blogger dan suka berbagi ilmu menulis di Ruang Aksara

22 Comments

  1. Wah, tipsnya oke banget nih. Iya, paling bingung itu ketika kita harus merelakan barang2 yang sudah tidak terpakai untuk diberikan atau disumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Alasan klise, memiliki kenangan hahahah :D Mungkin sebagian kecil saja yang disimpan tapi yang sudah tak perlu ya ikhlaskan saja. Khawatir pertanggungajawabannya di akhirat ya kalau menimbun barang dibiarkan begitu saja :D

    ReplyDelete
  2. Aku juga suka rada susah kalo haris membuang barang tuh mbak, kayak berat dan berasa emosional aja gitu. Lebay emang hehehe. Tapi kayaknya harus mulai declutter juga deh, rumahku udah mulai penih sesak juga soalnya huhu

    ReplyDelete
  3. Salut mbak, keren! Saya masih belum bisa kaya gitu... Judulnya decluttering, tapi yang keluar cuma sedikit dibanding yang kembali masuk lemari, jadi tetep aja penuh, hiks...

    ReplyDelete
  4. Aku dan pak su sama mba, kayaknya aku ketularan dia yg nggak suka mengumpulkan kenangan 😂😂😂
    Jadi declutter ngebantu banget bikin rumah lowong haha apalagi mainan anak2 itu ampun rutin diberesin kuduuu. Tapi ada 1 orang yg hobi ngumpulin kenangan hihi si mbak yg kerja di rumah aku.
    Moga selalu aman nyaman ya mba di rumahnya😍

    ReplyDelete
  5. kalau lagi libur dan ga ada DL aku pasti decluter terus sekarang, alhamdulillah udah rutin decluter baju sama mainan anak-anak, jadi aku punya lemari khusus barang decluter yang nantinya aku pikirin akan diapakan dan dikemanakan barang2 yang udah ga dipake ini

    ReplyDelete
  6. Waktu pandemi karena gabut kami serumah decluttering barang masing-masing..Setelahnya, bela-beli baru, dapat hadiah ini itu, numpuk lagi hiks. Baca ini jadi punya ide lagi, waktunya decluttering nih.

    ReplyDelete
  7. Ternyata menimbun barang emang berpengaruh juga ama kondisi mental yaah. Aku juga mau baca Good Bye Things biar lebih lega dan ngga kepikiran mulu kalau numpkin barang. Sering juga decluttering emang ngefek jadi lega deh, ngeri juga di hisabnya ntar huhuu.

    ReplyDelete
  8. Wah sepertinya bisa saya coba juga nih, Kak caranya yang ada di atas

    ReplyDelete
  9. Bisa dijadikan referensi nih, Kak cara hidup minimalis dengan konsep decluttering

    ReplyDelete
  10. Jadi lebih rapi nih ya, Kak pada setiap ruangan yang ada di rumah tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget. Setelah 7 th berumah tangga, saya jg baru menerapkan pilah pilah begini. Decluttering butuh jiwa yg ikhlas gitu, pokoknya gak boleh 'emanan' kalo kata orang Jawa. Berharap moga2 kalo udah dipilah dan dikasihkan orang, yg nerima lega dan hati jg tenang karena rumah rapi gak berantakan

      Delete
  11. Memang benar banget nih, Kak kalau kebanyakan barang di rumah menjadi tidak enak dipandang

    ReplyDelete
  12. Setelah membaca artikel ini saya jadi ingin mencoba dengan hidup seperti itu juga hihi

    ReplyDelete
  13. Kalau di rumah saya, justru Pak suami yang selalu mengingatkan untuk memisahkan barang yang sudah tidak dipakai lagi untuk diberikan pada orang yang membutuhkan. Sedangkan saya, kebalikannya.

    Tapi sekarang saya juga udah mulai menerapkan hidup minimalis decluttering. Sekarang niatnya dikuat-kuatin, begitu memilah barang yang gak dibutuhkan, langsung masukin ke karung dan berusaha untuk gak lihat-lihat lagi. Soalnya kalau lihat isi dalam karung lagi, suka ngerasa sayang hihihi...

    ReplyDelete
  14. Kami sudah menerapkan hal ini sejak lama , bahkan piring makan pun palingan hanya satu lusin dengan personil 5, gelas juga dll. Kalo kotor yah harus cuci gak ada istilah menumpuk, hehehe. Lebih praktis aja sih dan jadi lebih disiplin dan rajin cuci[piring, belum lagi yang soal pakaian, bahan makanan, cucian dll

    ReplyDelete
  15. Gaya hidup minimalis ini emang kudu diterapkan. Jadi, kita gak nimbun barang terlalu banyak.

    Saya baru menyingkarkan baju-baju lama yang udah gak kepakai. Ada yang tek kasih tetangga atau saudara yang membutuhkan.

    Kalau hak lainnya belum nih. Apalagi mainan, anak saya masih hobby, peralatan dapur juga belum hisa hihihi

    ReplyDelete
  16. Aku beberapa waktu kemarin mulai ngurangin barang-barang. Kayanya mau juga decluttering buku karena selama ini merasa sayang sama mereka padahal sudah kebaca. Mau nyiapin mental dulu biar hati lebih ikhlas

    ReplyDelete
  17. Beberapa tahun belakangan aku juga rutin decluttering mba, rasanya memang jd lebih plong dan lega serta ringan juga di hati sih. Terakhir decluttering mainan anak2 tuh terasa banget leganya... buanak bgt soale dan awalna kekeuh mrk jg ga mau, akhirnya dg alasan dikasih ke orang lain baru deh boleh

    ReplyDelete
  18. Sebenernya proses Decluttering ini gak pernah mudah yaa..
    Soalnya melibatkan rasa. Namun, kalau sudah dijalani, rasanya cukup lega sama space yang diciptakan. Legaa juga kalau beberapa barang di Decluttering.

    Sama, kak Dew..
    Aku juga hobi nimbun barang. Hiks~ sampek hal sesimpel kertas kado pun aku lipetin lagi.. Karena ngerasa ada kenangan di dalamnya.

    ReplyDelete
  19. Semenjak suka ngikutin Marie Kondo, aku rutin beberapa bulan sekali declutter kamar karena pasti ada item yang aku ga pake lagi. Sekalian bebersih dan mempertahankan apa yang beneran dipake

    ReplyDelete
  20. Alhamdulillah happy ya mba setelah melihat ruangan lebih luas dan rapi. Tidak menumpuk barang yang ternyata sudah tidak kita gunakan lagi. Akupun sama mulai declurering 2thn lalu dan sampai sekarang masih rutin declutering sebulan sekali..

    ReplyDelete
  21. kalau baju udah lama enggak menumpuk, kalau ada banyak dikasih ke orang, gudang udah dibongkar dan semua yang gak berguna dibuang. Alhamdulillah hidup lebih happy, rumah jadi bersih

    ReplyDelete
Previous Post Next Post