Wednesday, March 2, 2016

Sedekah Budaya Semarang, Bertemu Maestro Sastra NH.Dini, Taufik Ismail & Ahmad Tohari

Dear Temans,

Alhamdulillah, akhirnya bisa posting blog juga hehe.
Bulan Februari dan Maret disibukkan dengan berbagi tentang penulisan cerpen ke sekolah-sekolah di Semarang bersama Faber Castell dan Tulisen.com. Semoga bermanfaat  bagi adik-adik kita dan bisa menginspirasi mereka untuk menulis ya, aamiin. Di postingan lalu, dakuw sempat menulis hepinya kopdar bersama Eyang NH. Dini.

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
Tim Hore dari IIDN Semarang hihihi
Tanggal 29 Februari 2016, adalah hari istimewa.
Karena selain datang hanya empat tahun sekali, tanggal 29 Februari tahun ini adalah ulang tahun ke-80 Eyang NH. Dini, Sastrawati legendaris Indonesia asal Semarang. Eyang Dini, begitu kami memanggilnya, telah berkarya sejak SMP. Hm, kalau dihitung-hitung, beliau telah berkarya selama 65 tahun! Masya Allah! Jadi, dakuw agak sedih ketika berkeliling ke sekolah-sekolah dan mendapati anak-anak banyak yang tidak tahu beliau. Hiks. 

Ya, setiap acara workshop, dakuw selalu memperkenalkan beliau sebagai penulis legend yang telah berusia lanjut usia tetapi tetap berkarya dan tidak pikun, semua itu karena Eyang tetap menulis dan mengasah otaknya. Subhanallah.

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
bersama Pak Ahmad Tohari
Sejak jauh hari, Eyang mengajak kami, yang sudah pernah ketemu beliau untuk menghadiri syukuran ulangtahun yang diselenggarakan oleh Komunitas Pencinta NH. Dini, sahabat-sahabat Eyang. Tentu saja, kami menyambut gembira ajakan itu. Acaranya diadakan di Vina House tanggal 29 Februari. 

Manusia boleh berencana, Allah jua yang menentukan.
Ternyata pas tanggal itu, dakuw harus mengisi kelas cerpen di dua sekolah di Gunung Pati, Semarang. Sempat mengatur rencana untuk naik Gojek setelah mengajar kelas pertama dan mencari guru pengganti untuk kelas berikutnya juga gagal. Hiks, pilu deh hatiku. Gagal menghadiri acara syukuran beliau.

Goodie bag syukuran ultah Eyang NH Dini ke-80
Tapi, namanya rejeki ya. 
Dua hari sebelum acara, Winda Oetomo mencolekku. Arsitek kece itu mengajakku untuk menghadiri acara Sedekah Budaya dalam rangka syukuran Ultah ke-80 Eyang juga. Tempatnya pun sama di Vina House tetapi diadakan Hari Minggu tanggal 28 Februari. Horee, mau, mau! 

Sore-sore, setelah mendapat restu Pak Bagus, akhirnya kami meluncur ke bawah. 
Ups, ada kecelakaan, truk terguling di Gombel. Antrian kendaraan mengular. Waktu yang dibutuhkan untulk melalui Gombel 45 menit, saudara-saudara! Kami sudah deg-degan karena khawatir, Eyang kan orangnya tepat waktu. Kami takut dimarahi hehe. Alhamdulillah, pas kami sampai, yang lain ngaret, wkwkwk. Kami bisa maghriban dan bernapas dulu. 

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
Pak Ahmad Tohari berbagi cerita tentang buku-bukunya
Tak lama, tamu undangan berdatangan. 
Eyang Dini belum kelihatan. Telah hadir penulis Demak yang selalu on fire dan produktif, Mbak Dian Nafi.
Ada sahabat-sahabat Eyang, Ibu Sulis pemilik hotel Ungaran Cantik dan lainnya berkumpul. Termasuk Dokter cantik Ibu Bulan Trisna yang jago menari. Hadir juga Mas Agus Surawan, Ketua Komunitas Penulis Ambarawa. Juga Pak Handry TM, penulis Kancing Yang Terlepas asal Semarang. 

Ternyata, acara Sedekah Budaya ini tak hanya diisi oleh Eyang tapi juga hadir Pak Taufik Ismail dan Pak Ahmad Tohari, Temans! Gyaaa! Ya, ternyata Pak Taufik jauh-jauh datang dari Jakarta demi menghadiri syukuran Eyang. Penyair dan sastrawan hebat ini pernah dakuw temui sebelumnya, tahun 2006 silam. Bahagia melihat beliau dalam keadaan sehat walafiat. Pak Taufik yang berasal dari Bukit Tinggi ini dikategorikan sebagai penyair angkatan 66 dan telah menulis beberapa buku puisi diantaranya Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
Winda bersama Pak Taufik Ismail
Kontan, beliau langsung diserbu tamu lain untuk diajak foto bersama. Tak ketinggalan kami bertiga juga mengajak beliau. Alhamdulillah, beliau bersedia hehe. Tak lama kemudian, datang Pak Ahmad Tohari, sastrawan yang berasal dari Banyumas. Beliau uga hadir di acara Syukuran Eyang sebagai bentuk perhatian dan sayangnya pada eyang. Penulis kelahiran tahun 1948 ini juga nampak sehat dan sumringah. Subhanallah, bahagianya dakuw! 

Kami bertiga, trio hore-hore langsung mendekati beliau dan mengajaknya foto bersama. 
Tak disangka, Pak Ahmad Tohari penulis Ronggeng Dukuh Paruk dan Lintang Kemukus Dini Hari ini begitu ramah melayani permintaan kami. Winda mengeluarkan koleksi novel beliau untuk ditandatangan. Waaa, komplet! Huhuhu ngiriii. 

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
bersama Pak Taufik Ismail semoga ketularan kerennya aamiin
Ternyata Winda juga menggemari buku-buku Pak Ahmad Tohari dan segera mereka asyik berdiskusi. Beliau menceritakan bahwa urutan terbt bukunya ternyata tidak sesuai urutan penulisannya. Jadi ada novel yang ditulis belakangan malah terbit duluan. Pak Taufik dan Pak Ahmad Tohari malah saling melempar candaan, "Sudah ada buku baru lagi belum kau?" Subhanallah! 

Tak lama kemudian, Eyang NH. Dini tiba di TKP.
Bu Sulis yang menjadi tuan rumah malam itu mengajak kami menyantap hidangan dinner sederhana yaitu rawon dan lontong opor. Sederhana tapi nikmat. Tak lama kemudian, acara Sedekah Budaya pun dimulai. Acara diawali dengan musikalisasi puisi serta pembacaan petikan novel Tirai Menurun karya Eyang yang berlatar perkumpulan wayang wong di Semarang. Alhamdulillah, aku baru saja menamatkan buku Eyang yang terbit pertama kali tahun 1993. 

Moderator malam itu adalah Pak Goenawan Permadi, Pemred Wawasan.
Eyang Dini tak menampik kalau ia adalah seorang feminis. Tapi, menurutnya, ia hanya menangkap apa saja yang ia amati di seklilingnya, berbagai ketidak adilan yang dialami perempuan dan menuangkannya lewat tulisan. Karena itu, beliau tak mau disebut pengarang, karena apa yang ditulisnya adalah kenyataan, fenomena yang terjadi di masyarakat. Hanya dituliskan dalam bentuk fiksi.

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
Eyang Dini bersama sahabat-sahabat akrabnya
Menurut Eyang, Ia dianugerahi Tuhan ingatan fotografis sehingga bisa mengingat dengan detil peristiwa yang ada walau telah lama berlalu. Eyang tak hanya menulis kisah hidupnya yang dibukukan dalam seri Cerita Kenangan atau disebutnya novel otobiografis, beliau juga menulis sejumlah novel yang berdasarkan kisah hidup orang-orang yang ditemuinya selama perjalanan hidupnya. Seperti novel Keberangkatan, tentang pramugari GIA yang berdarah Indo-Belanda, dan memilih meninggalkan Indonesia karena dikecewakan tunangannya yang berdasrah jawa, adalah kisah hidup sahabatnya. 

Masih cerita Eyang pula, ketika menulis cerpen, juga berdasarkan kisah nyata, sehingga kalau tulisannya dimuat di media dan ia bertemu si tokoh, maka ia memberikan 10% honor cerpen itu kepada si tokoh hehe. Di acara ini pula, hadir Ibu Dokter Bulan Tresna, sahabat Eyang dan kerap hadir dalam buku-buku Eyang. Beliau nampak ayu dan anggun di usia senja. 

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
Bincang Proses Kreatif NH Dini
Ada juga kejadian memancing tawa kami ketika Pak Handry TM dengan bangga mengingatkan Eyang kalau ia pernah mengawal Eyang ke Korea Selatan saat masih jadi wartawan muda. Eyang lalu menjawab, kalau Pak Handry nggak mengawal tapi dititipi oleh pemred nya saat itu. Oalah, ternyata Pak Handry adalah wartawan muda yang diceritakan Eyang dalam salah satu bukunya, wartawan muda culun, yang nggak tahu kalau di Korsel sedang musim dingin dan ia bahkan tak membawa jaket. Merepotkan, tulis Eyang. Hahahahaha...

Sedangkan soal proses kreatif, Eyang sempat bercerita kalau ia rajin mendokumentasikan ide dan pengalaman hidupnya lewat diary, ini yang jadi bahan tulisan. Eyang juga rutin menulis dua jam setiap hari hingga saat ini, karena kalau lebih dari itu, vertigonya bisa kambuh. Subhanallah, pantas Eyang begitu produktif. Jadi maluuuu...

Sedekah Budaya NH Dini Semarang
Dokter Bulan menceritakan pengalamannya jadi bumbu-bumbu cerita Eyang
Sayangnya, karena malam sudah semakin larut, dakuw dan Winda akhirnya pulang duluan. Mbak Dian malah cabut lebih awal lagi. Kami tak sempat menyaksikan Pak Taufik ismail baca puisi juga bincang-bincang Pak Ahmad Tohari. Dakuw nyampe rumah pun sudah pukul 22.00 dan anak-anak sudah tidur pulas. Alhamdulillah, hari yang penuh hikmah. Semoga ketiga maestro sastra Indonesia, Eyang Dini, Pak Taufik dan Pak Ahmad Tohari sehat selalu dan panjang umur aamiin. Terima kasih ya Windaaa...sudah mengajak dakuw!



12 comments:

  1. Wah, asyiknya... aku juga mau tuh diajak hehehe.. suka banget sama karya2nya Eyang NH Dini

    ReplyDelete
  2. Bahagianya bisa bertemu dengan penulis-penulis legendaris ya mb Dew...

    ReplyDelete
  3. Kerenlah bisa ketemu senior di bidang kepenulisan, seru banget pastinya

    ReplyDelete
  4. wua senengnya ketemu pak Taufik Ismail. aku ngefans banget ama beliau

    ReplyDelete
  5. Mupeng, kapan yo aku isa ikutan Teh :D
    padahal ya Kaliwungu mayan deket. Tapi males ngangkote, Teh :D
    Legend itu slu menginspirasi.

    ReplyDelete
  6. Wah NH Dini favoritku sejak SD :D
    Seneng ya mbak bisa ketemu tiga penulis kawakan sekaligus. Pasti banyak yg bisa dipelajari dr mereka :D

    ReplyDelete
  7. Wah... senangnya bisa ketemu dengan masetro sastra yg hebat di negeri ini.. Special moment tentunya ya Mba..

    ReplyDelete
  8. NH Dini, namanya aku kenal sejak SD, hihihi. Penulis keren. Wah senang sekali pastinya bertemu beliau

    ReplyDelete
  9. Saat masih di Semarang, pengen ketemu NH Dini, tapi nggak tau rumahnya dan nggak ada yg ngajak hehehe. Skrg udah nggak di Semarang.. kesempatan itu makin kecil :(

    ReplyDelete
  10. Seneng ya mbak, lihat tiga maestro sastra Indonesia ngumpul dan tukar cerita. Aku berntung banget bisa juga bertemu beliau bertiga, bisa tergugah semangat kita :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...