Lindungi Anak Kita, Cegah Kekerasan Seksual!

Kami sedang di atas angkot ketika peristiwa itu terjadi.

Angkot sedang ngetem. Tiba-tiba, sahabatku dirogoh payudaranya lewat jendela. Pelaku langsung kabur, meninggalkan korban yang gemetaran. Sejak saat itu, sahabatku trauma. Peristiwa saat SMA telah merusak hidupnya

Baca Juga: Bahaya Covid19 Mengintai

Lindungi Anak, Cegah Kekerasan berbasis gender



Anak Rentan Kekerasan Seksual

Tak hanya secara langsung, dunia maya pun berbahaya. Seseorang bisa mengirimkan pesan berupa kalimat berbau seksual, bahkan gambar penisnya pada perempuan tak dikenalnya di Twitter. Miris. 

Lindungi Anak, Cegah Kekerasan berbasis gender


Beberapa hari lalu, aku menyimak webinar Cerdas Berkarakter Kemdikbud bertema Anti Kekerasan Berbasis Gender. Ada beberapa jenis kekerasan, dan kekerasan seksual kerap menimpa anak dan perempuan di Indonesia.

Kekerasan seksual adalah tindakan fisik/non fisik yang merendahkan, melecehkan, atau menyerang seksualitas tubuh secara paksa tanpa persetujuan.  Kekerasan seksual misalnya serangan tak senonoh memegang pantat, dada, alat kelamin, hingga perkosaan.

Lindungi Anak, Cegah Kekerasan berbasis gender


Data kekerasan pada anak menurut UNICEF tahun 2015 memprihatinkan: 50% dirundung di sekolah. Bahkan menurut Survei KPPA, 4615 anak menjadi korban kekerasan 1 Jan-24 Juli 2020. Sebanyak 58.80% kekerasan terhadap anak dan perempuan terjadi dalam rumah. 


Baca Juga: Akhiri Kelaparan Balita!

Ya, anggota keluarga menjadi pelaku kekerasan tertinggi kedua setelah teman sebaya. Rumah, yang dianggap tempat paling aman untuk berlindung. Tak hanya itu, kekerasan yang terjadi di sekolah dan kampus ternyata menempati nomor tiga paling banyak terjadi! 

 Menurut psikolog dari Yayasan Pulih, Gisella penyebabnya: 

  • Pola pikir anak yang sederhana

Anak usia 0-18 tahun pola pikirnya sederhana, belum terlalu kompleks. 

Lindungi Anak, Cegah Kekerasan berbasis gender

  •  Anak dianggap obyek

Anak belum bisa memenuhi kebutuhan sendiri hingga dianggap hak milik. Harus patuh pada orang tua dan guru. Padahal, anak adalah manusia utuh yang memiliki pikiran dan perasaan.

  • Ketimpangan gender

Anak lelaki dianggap lebih istimewa. Padahal, anak perempuan punya banyak potensi. Anak lelaki kadang kurang berkembang emosinya karena kebiasaan, dilarang menangis

  • Kurang memahami kekerasan pada anak

Masyarakat kurang paham hal ini sehingga tidak memberi perlindungan. 

Bagaimana cara mencegah kekerasan seksual?

Ya, kekerasan bisa kita cegah mulai dari keluarga. Orang tua harus memberikan teladan terbaik di rumah. Berikan anak contoh bagaimana orang tuanya saling menghargai. Berikan anak kasih sayang, hargai anak sebagai manusia dan mendengarkan pendapatnya tentang segala hal. 

Ajarkan anak untuk berani berbicara dan berpendapat sejak dini. Hal ini akan menjadi pondasi bagi mereka. Proses kekerasan seksual seringnya tidak terjadi begitu saja. Tapi, ada proses misalnya bujukan, sebelum terjadi kekerasan. Jika anak berani berbicara tentang kejadian dialaminya, kita bisa mencegah hal lebih buruk terjadi. 

Lindungi Anak, Cegah Kekerasan berbasis gender


Sejak dini, ajari anak mengenal tubuhnya. Bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh seperti dada, pantat dan alat kelamin. Berdiskusi dengan anak agar tidak sembarangan menerima pemberian, ajakan dari orang asing. Selalu bersikap waspada di tempat umum. 

Kita bekali anak dengan ilmu beladiri agar bisa melindungi dirinya. Selain itu, dekatkan keluarga pada Tuhan, berdoa semoga anak selalu diberi perlindungan di manapun ia berada.       

Bagaimana mengetahui anak dirundung?

Kita harus mencermati perubahan, hal diluar kebiasaan atau perilaku yang berbeda. Misalnya, ia jadi pemurung, atau tiba-tiba menjadi lebih agresif. Perubahan ini bisa menjadi tanda terjadi kekerasan. Segera lakukan pendekatan pada anak. 

Lindungi Anak, Cegah Kekerasan berbasis gender


Kita Berharga

Menurut Bang Indra Brasco, ia selalu menekankan pada anak-anaknya untuk mencintai dan menghargai diri sendiri. Kalian itu berharga! Perempuan dan lelaki sama-sama berharga dan mampu berprestasi di bidang apapun. Perasaan berharga dan dicintai membuat anak lebih percaya diri. Kepercayaan diri dan pikiran jernih akan membuat para remaja tak gegabah mengambil keputusan berbahaya seperti bertemu orang asing di tempat sepi. 

Sumber Foto: 

Webinar Kemdikbud & Pixabay.com

 

 

 

 

 

 

 


Comments

  1. Aku pernah dikirimi alat kelamin lelaki di DM Twitter, Mbak. Dia follower yang gak aku folbek. Terbayang gimana shocknya? Apa lagi kalau anak-anak yang mengalami ya, gak bisa lah aku membayangkan trauma yang tinggal di pikiran mereka. Semoga kita semua bisa melindungi anak-anak dari kekerasan berbasis gender gini. Sepertinya orang tua harus lebih banyak belajar, dan tidak bosan update informasi mengenai kekerasan seperti ini

    ReplyDelete
  2. ya Allah iya lho temenku pas sd juga gitu,dipegang payudaranya sama org yg naik motor pas pulang jalan dari sekolah
    ih ngeri bgt aku mbak, anak anakku perempuan semua
    makanya kami sudah memberi pelajaran untuk melindungi diri mereka sejak dini

    ReplyDelete
  3. Yees Dedeeew
    aku termasuk anak perempuan yang sempat mengalami pelecehan seksual, waktu masih kecil (usia sekitar 8 tahun) diraba pahanya oleh seorang pria dewasa (teman Bapak alm) dan itu membuat aku sangat sangat sangaaaat benci dengan yang namanya anak laki laki

    Dan waktu kuliah, juga sering jalan kaki sendiri sehingga pernah liat orang yang ekshibionis - tapi aku lapor ke adikku sehingga akhirnya diantar jemput atau minimal saat jalan kaki di gang dari rumah hingga angkutan umum ada yang mengawasi dari rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sediiih banget bacanya, kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja, hanya bisa berdoa dan ekstra hati hati memperingatkan ke anak anak

      Delete
  4. Yg seringkali terjadi, korban malu melaporkan ksus kekerasan berbasis gender. Akhirnya diam saja dan pelaku tetap bergentayangan.

    ReplyDelete
  5. Aku waktu di Jakarta beberapa kali diperlihatkan orang exibisionis dan di kendaraan transportasi umum juga beberapa kali dirundung. Itu aja rasanya YaAllah, semacam kesal dan trauma. Semoga jangan kejadian dengan anak saya dan keluarga juga semua wanita di Indonesia. Orang tua tetap memantau perkembangan anak.

    ReplyDelete
  6. Makasih banget mbak untuk artikelnya ini, sangat membantu banget untuk kita sebagai orang tua. Masalah kekerasan berbasis gender ini perlu diwaspadai banget, karena rentan terjadi. Setuju perlu banget mengajarkan ke anak love yourself, juga sering komunikasi sama mereka.

    ReplyDelete
  7. Aku pernah tau survey kekerasan sensual malah banyak dilakukan dari lingkungan terdekat anak. Keluarga, saudara, orang yang sudah dipercaya. Memang disini penting banget menanamkan edukasi tentang kekerasan seksual pada anak

    ReplyDelete
  8. Aduh emang banyak sih kejadian kaya gini. Pernah juga ngalami liat temenku di kirimin gambar2 gak senonoh di twit nya. Harus di edukasi banget anak2 buat selalu jaga2

    ReplyDelete
  9. Dulu saya suka gak mau kalau naik transportasi umum. Tidak hanya kualitasnya yang buruk, tetapi juga suka ada oknum yang seperti itu, Alhamdulillah, transportasi umum saat ini semakin nyaman. Tetapi, juga tetap jangan lengah. Termasuk juga mengingatkan ke anak supaya bisa menjaga diri

    ReplyDelete
  10. makin banyak memang tantangan yang kita hadapi sebagai orang tua ya mba... thank for reminding us how dangerous this gender - based violence

    ReplyDelete
  11. Sempet kepikiran selintas, nanti kalo udah besar anak2ku gimana ya, jaman sudah semakin berkembang digitalnya, sbg orgtua kudu ekstra kerja keras menanamkan pendidikan seksual.
    Kuncinya, tanamkan kepercayaan diri pada anak dan juga perlu edukasi anak sejak dini ya.

    ReplyDelete
  12. iya bener banget mba... salah satu penyebab kekerasan dan pelecahan terhadap anak tinggi karena memang menganggap mereka sebagai subjek. Karena masih anak mereka belum punya hak untuk bebas,.. semoga anggapan ini mulai terkikis dan tidak ada lagi anak yang mengalami kekerasan fisik dan non fisik ya..

    ReplyDelete
  13. iya bener banget mba... salah satu penyebab kekerasan dan pelecahan terhadap anak tinggi karena memang menganggap mereka sebagai subjek. Karena masih anak mereka belum punya hak untuk bebas,.. semoga anggapan ini mulai terkikis dan tidak ada lagi anak yang mengalami kekerasan fisik dan non fisik ya..

    ReplyDelete
  14. Anak-anak harus belajar bela diri. Ini tuh penting banget yaa, untuk jaga-jaga melindungi dirinya sendiri. Anak saya ikut taekwondo. Trus jadi ingat kalau udah berapa bulan selama pandemi ini gak ada latihan lagi. Semoga bisa kembali latihan seperti sedia kala, pengen banget dia bisa menguasai satuuu aja ilmu bela diri.

    ReplyDelete
  15. Ngomongin kekerasan seksual memang bikin sedih. Faktanya, si hewannya bisa gampag ngapain walopun itu sajnaikura

    ReplyDelete
  16. Aku sendiri mba kadang deg2an apa aku kalau ngomelin anak2 itu termasuk kekerasan verbal ya. kadang bingung sendiri xixixi.
    tapi semoga kita selalu jadi orang tua yang baik buat anak2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget sama kak Echa.
      Kadang sering gak inget pas lagi ngomel.
      Tapi mulai saat ini, aku mulai kontrol marah...dan semoga bisa perlahan menjadi energi yang positif.

      Delete
  17. Ya Allah...
    Bener-bener pengalaman yang bikin anak traumatik yaa..
    Semoga Allah selalu lindungi keluarga kita dari orang-orang jahat.

    ReplyDelete
  18. Miris ya mbak, tantangan ke depan anak.semakin besar. PR kita semakin banyak. Semoga Allah selalu melindungi anak-anak kita di manapun mereka berada.

    ReplyDelete
  19. Baca ini saya nangis, mengandai-andai jika hal itu terjadi pada anak saya. Ya Allah...semoga saya bisa memberikan contoh yang baik pada anak saya agar bisa bersikap dan menjaga perilaku dirinya agar jauh dari pelecehan seperti ini

    ReplyDelete
  20. Bener banget klo perasaan berharga dna rasa percaya diri itu harus dibangun dr rumah dna itu yg akan jd penguat buat anak2 saat mrk keluar rumah di lingkungan masing2

    ReplyDelete
  21. Pelaku tindak kekerasan seksual ini ada dimana-mana, bahkan dari saudara terdekat pun bisa terjadi. Oleh karena itu sebagai orangtua harus aware membekali anak untuk berani melawan dan memberinya pondasi untuk bisa mencegah tindak kejahatan seksual itu. Diantaranya dengan pengenalan sentuhan boleh dan sentuhan tidak boleh pada anak ya mba..

    ReplyDelete
  22. Bener mba. Aku juga pernah pengalaman mendapatkan pelecehan seksual gitu. Waktu tu aku masih SMA. Tiba-tiba orang sebelahku yang di angkot, ngeraba-raba aku gitu. Kagetlah aku. Aku langsung stopin angkotnya dan bilang kiri.

    Ya ampun payah banget aku waktu itu, karena akunya kaget, trauma gitu. Jadi ga berani marah waktu itu. Yang ada aku langsung stopin angkot itu. Ngeri aku mba dan cerita itu aku simpan sendiri dulu. Ya ampun sedih banget aku. Makanya aku pengennnnn banget bangun bonding ama anak aku dan udah kasih pendidikan seks pada anak usia dini. Tebtu aja disesuain ama usianya

    ReplyDelete
  23. Huhuhu, serem banget kalau ketemu kekerasan seksual pada anak, kudu waspada dan ngasih bekal ilmu ke anak sejak dini mana yang bisa disentuh orang lain, mana yang tidak

    ReplyDelete
  24. Dulu waktu SMP aku pernah ngalamin tuh mbak. Dipegang payudaranya ama orang yg papasan di jalan pulang sekolah. Langsung kugaplok orangnya pake buku paket 3 tumpuk yg kupegang trus orangnya lari. tapi aku gemetaran dong. Nggak mau lagi jalan kaki lewat sana. Klaau nggak dijemput ya mending nggak pulang deh pokoknya.

    ReplyDelete
  25. Aku dulu sering tuh dikirimi gambar penis maupun video porno aps jamannya Yahoo Messenger berjaya. Sekarang kalo ada yang ngirimin langsung tak blokir orangnya.

    Kegiatan webinarnya bagus banget, pengen bisa ikut hal semacam ini.

    ReplyDelete
  26. Kekerasan seksual pada enak emang makin hari makin mengerikan, sebagai orang tua emang kudu ektra hati-hati dan bisa mengedukasi anak tentang menjaga diri dari pelecehan seksual sedari dini, kalo dulu mungkin pas puber suka ada aja kejadian yg ga menyenangkan dari orang jahat tapi sekarang anak-anak jadi sasaran, semoga anak-anak kita bisa dilindungi dari orang jahat seperti itu, Bagus nih materinya kudu disebarin terus

    ReplyDelete
  27. Setuju banget sama closing statement-nya, bahwa anak laki-laki dan perempuan itu sama berharganya. Dari sekarang saya mulai sosialisasi bagian tubuh apa saja yang harus tertutup, nggak boleh disetuh sama orang lain. Tapi masih harus diulang-ulang, sih. Semoga dia segera mengerti.

    ReplyDelete
  28. Anak perempuan saya paling gak mau naik angkutan umum. Dia takut dengan preman atau pengamen yang suka maksa naik angkutan kota. Meski alhamdulillah, dia masih dilindungi Allah.

    ReplyDelete
  29. Aku juga sering khawatir sama anak2 mba...jaman aku kecilpun kekerasan seksual/pelecehan ini sudah ada. Apalagi di jaman ketika semua orang bisa akses konten2 yang berbau pornografi dengan sangat mudah...

    ReplyDelete
  30. Isu kayak gini harus terus diangkat ya mak karena dampaknya ke masa depan anak-anak besar banget. Apalagi masih banyak masyarakat kita yang malu kalau bicara isu ini

    ReplyDelete
  31. Sedih banget kalau baca/denger berita kekerasan pada anak... Semoga anak-anak kita selalu dilindungi ya...

    ReplyDelete
  32. Semoga anak2 dilindungi, ibu bapak juga dimudahkan dalam qmengurus anak2 sampai bedar
    Huhu ga bisa diyangain kalau gt aja krna kekerasan jadi terusan

    ReplyDelete
  33. Huhu aku dulu pernah, pelakunya juga bocah, lagi jalan terus papasan dia sengaja megang ke daerah pribadi. mau nangis rasanya. Apalagi zaman sekarang, lebih parah lagi prilakunya.Penting banget mengedukasi anak sejak dini.

    ReplyDelete
  34. Kalau ngomongin kekerasan seksual pada anak, jadi inget temen yang dulu pernah ngelecehin aku di sekolah. Dulu sih nggak ngerti dan nggak ngeh kalo itu termasuknya pelecehan. Tapi kayanya dia termasuk anak yang lack of supervisi orang tuanya. Parah sih Mak. Semoga kita bisa selalu mendidik anak-anak supaya jauh dari hal-hal semacam ini...

    ReplyDelete

Post a comment