Tantangan Terberat Saat Puasa

 Halo Teman, 

Alhamdulillah, sudah sampai hari ke-4 tantangan 10 Hari Konsisten Ngeblog bersama IIDN nih. Kali ini, topiknya cukup menarik yaitu Tantangan terberat saat puasa. 

Hm, apa ya tantangan terberat? Berhubung aku kebanyakan di rumah saja saat ramadan jadinya tidak terpapar cuaca panas mentereng atau hujan deras Ungaran. Jadi, terbilang aman. Berbeda dengan anak sekolah atau pekerja yang harus keluar rumah atau bahkan bekerja di luar ruangan. Cuaca terik cukup menyiksa saat berpuasa. 

Tantangan Terberat Saat Puasa

Musuh utama saat berpuasa itu rasa kantuk dan mager ya. Bawaannya pengen rebahan di kasur. Mata rasanya masih berat karena begadang. Bahaya banget kalau diikuti keinginan tidur ini. 

Makanya, sebelum ramadan aku sudah menyiapkan beberapa kegiatan agar lebih produktif mengisi ramadan.  

Selain ikutan 10 Hari Konsisten Ngeblog, aku juga ikut 31 Days Ar Rahman Challenge yang diadakan oleh QuranDive. 

Jadi, tiap pagi kegiatannya selain tilawah, memaksakan diri jalan pagi lalu menulis blog dan mengikuti kegiatan tadabbur Ar Rahman. Lumayan, jadi terpacu untuk  lebih disiplin. Soalnya, akhie-akhir ini blogku saja hanya diupdate sekali sebulan! huhu. 

Hm, tantangan apa lagi ya? Oh iya, menahan diri untuk scrolling medsos lama-lama dan ikutan berkomentar! Sekarang, jika ingin scrolling , aku alihkan ke baca buku saja. Berusaha membaca buku agama sebagai ganti novel. Tapi, tetap kok baca novel hihi. Selang-seling. 

Tantangan Terberat Saat Puasa

Nah, sejak awal tahun aku sudah berusaha mengurangi berkomentar di medsos. Tidak semua hal harus dikomentari apa lagi sampai war. 

Sejak demo Agustus, peristiwa pesantren roboh,  keracunan MBG, dan bencana Sumatera, aku rajin banget ikut war di medsos karena gemas melihat situasi saat itu. Gemas banget dengan komentar asal bunyi yang tidak bernalar. Nirempati. 

Lalu, diingatkan kalau war terus-menerus malah bikin darah tinggi. Tapi, bukankah speak up penting? Akhirnya, coba alihkan keresahan yang dirasakan ke tulisan di blog jadi lebih terarah dan runtut. Jadinya, berusaha mengurangi komentar tidak penting apa lagi debat kusir di medsos. 

Pas ramadan ini, godaan untuk berkomentar besar sekali. Mulai dari bergabungnya Indonesia ke BoP yang nggak jelas, keracunan MBG, hingga pembunuhan anak SMP oleh oknum Brimob. Jadi warga Indonesia menyimpan amarahnya besar sekali ya? Melihat banyak ketidakadilan di republik ini. 

Sampai ada joke rakyat Indonesia masuk surga jalur istighfar melihat sepak-terjang pemerintah yang hari-hari ada saja ulahnya. Allahu Akbar. Jadi, menahan diri untuk tak berkomentar sulit sekali. Alhamdulillah, kini lebih mampu menahan diri dan memilih beristighfar. Masya Allah, Ukhti. Solusinya, like komentar yang sama dengan pendapat kita hahaha. 

Astaghfirullah. Jangan marah-marah melulu, Ukhti huhu. Mumpung ramadan, jangan lupa berdoa untuk negeri ini ya Teman. Semoga situasi segera membaik. Gelisah banget jujur. Kemarin ikut acara dengar pendapat dengan anggota DPR Komisi X yang sedang reses   dan berkunjung ke Kabupaten Semarang. Efek efisiensi tuh berefek semua bidang. Mulai dari sarana pendidikan, kesehatan, olahraga, literasi, kepemudaan, semuanya. Ya, sudah tahu kan dananya dialihkan ke mana? Hiks. 

Tantangan Terberat Saat Puasa

Padahal, ada pepatah terkenal yaitu berikan seseorang ikan, dan kamu memberinya makan untuk sehari; ajari seseorang cara memancing (memberi kail), dan kamu memberinya makan seumur hidup. 

Kita jauh lebih butuh dana pendidikan untuk seluruh anak Indonesia biar bisa bersekolah agar masa depan mereka lebih cerah. 

Tulisan ini untuk mengikuti 10 Hari Konsisten Ngeblog IIDN. 

Sumber Foto: Pixabay. com

Dewi Rieka

Seorang penulis buku, blogger dan suka berbagi ilmu menulis di Ruang Aksara

Post a Comment

Previous Post Next Post