Godaan Berpuasa
Belajar berpuasa sudah dilakukan sejak usia dini. Begitu juga aku dan adik-adikku dulu. Bayangkan, saat kami berpuasa sambil membaui aroma kue kering Mama' yang sedang dibakar di otang, oven tangkring.
Mama', masih buka jam berapa lagi? Perutku sakit bahaya jika tidak diobati, keluhku, berbaring di kursi rotan tak jauh dari Mama' dan Bonda Sumi yang sibuk memanggang kue nastar dalam oven tangkring di atas kompor minyak tanah.
Duh, kalian ini malah mau batal puasa. Sabar tinggal sebentar, tujuh jam lagi, lebih baik kalian main disana, omel Mama makin membuat kami turun. Tujuh selai? Sebentar? Inu mengeluarkan air mata buaya andalannya. Ia terisak-isak, Mama', katanya kalau nangis puasanya batal. Aku boleh makan sekarang ya?
Mama menyorot kami. Ayo, kalian jangan nongkrong di sini bakal tambah lapar. Sana, nonton televisi atau baca Bobo, usirnya. Misi kami gagal total. Bonda Sumi tertawa-tawa melihat kami berdua terbaring lemah. Kasihan Bu. Kasih makan saja, katanya. Biar saja, biar jadi anak-anak yang kuat, balas Mama' tenang.
Kami menyarankan, rayuan kami untuk buka puasa lebih awal gagal total. Mama bergeming.
“Yuk, tenda-tendaan utama!”
Aku mengambil tongkat pramuka di kamarku. Ini menarik dari tempat tidur. Lalu, kami sibuk membangun tenda dengan meletakkan dua tongkat di atas sofa. Jadi deh!
Aku mengambil bantal dan selimut dari kamarku. Kami menunduk, masuk ke dalam tenda dan mengisi ulang di bawah. Inu mengambil beberapa buku cerita dan aku membacakan cerita sambil bergaya radio sandiwara.
Kami bertiga tenda-tendaan utama sampai kelelahan dan tertidur di belakang kursi.
**
"Ayo, bangun! Salat asar dulu, sebentar lagi buka puasa!" Mama menggoyangkan badanku.
Aku mengucek-ucek mata, berusaha melihat sekelilingku. Ternyata Magrib sudah dekat. Ruang tengah tempat kami main pun kian temaram. Aku buru-buru berwudu.
Inu membuka matanya. “Sudah waktunya buka?”
"Sebentar lagi! Kalian hebat deh, mengisi waktu ngabuburit dengan main dan membaca buku bersama. Kompak sekali! Terima kasih sudah membantu Mama menjaga adik!" Mama' memeluk kami bertiga.
Tak lama, azan magrib berkumandang.
Kami berlima pun berbuka puasa mengelilingi meja makan. Diawali dengan minum teh hangat dan makan pisang goreng. Ada juga es buah buatan Bonda Sumi dan kue nastar yang tadi aromanya menggoda iman orang-orang berpuasa! Enak sekali nastar buatan Mama dan Bonda!
Rasanya sedap sekali buka puasa hari itu.
“Ayo, kita salat berjamaah dulu baru makan malam!”
Setelah salat magrib berjamaah dengan Bapak sebagai imam, kami langsung menyerbu meja makan untuk makan berat. Hdangannya sederhana ada sop bakso, ayam goreng, dan tempe goreng.
Baca juga: Tantangan Terberat Puasa
“Kalian jadi salat tarawih di musala Pak Darwis?” tanya Bapak. Bapak suka salat di masjid tak jauh dari rumah kami.
“Aku salat di rumah saja, boleh ya Ma?” Inu menyalakan nastar di topless, entah berapa ke berapa. Bisa-bisa gak jadi makan nastar pas lebaran! Gawat.
“Eh, nggak boleh. Kita bisa minta tanda tangan di buku Ramadhan!” balasku.
“Aku titip tanda tangan saja, na!”
Aku melengos. “Ndak mau ka.Harus ko salat baru bisa minta tanda tangan.”
Kami mau jambak-jambakan lagi tapi buru-buru dipelototi Mama. "Baru tadi dipuji eh sekarang berantem lagi! Pusingku deh!" keluh Mama'.
Kami mencantumkan di kursi masing-masing. Mama tidak tahu ya betapa seramnya jalanan ke belakang kalau malam?
Baca Juga: Tips Bugar Saat Puasa
Akhirnya, setelah lama dibujuk, diceramahi dan dimarahi Mama' kami pun berangkat ke musala. Tampaknya, kami akan menunda salat berjamaah. Kami agak ogah-ogahan saat berjalan kaki, bahkan berusaha memperlambat perjalanan. Soalnya, jalan ke kampung belakang tuh kalau malam gelap mana ada beberapa rumah kosong pula! Seram sekali!
Kami berdua bergandengan tangan melewati jalan setapak menuju perkampungan. Ih, beneran kalau malam agak seram ya lewat gang ini! Lampunya sedikit keluar. Mendekati musala, aku dan Inu akhirnya tancap gas berlari kencang sambil memeluk mukena dan sarung kami!
“Wah, kita terlambat salat Isya!” Inu buru-buru memakai sarungnya.
Untunglah kami sudah berwudhu di rumah. Aku dan Inu segera mengambil tempat masing-masing lalu ikut salat berjamaah. Selesai salat Isya, kami bersalam-salam dan aku bersiap untuk salat tarawih.
Eh, jamaahnya kok malah bubar keluar musala?
"Kamu mau ke mana, Nat?" bisikku.
"Pulang, aku lapar."
Aku melongo. "Kok pulang? Nggak ada salat tarawih di sini?"
Natalia menoyor kepalaku. "Ededee, kau ke mana saja, Dew? Sudah menyelesaikan mi ini tarawihnya. Di sini kan hanya 11 rakaat. Kau ketiduran atau kekenyangan tadi?" ledeknya.
"Hah, sudah selesai? Kok bisa? Cepat sekali!"
“Ya bisalah, kamu terlambat datang. Ayo pulang!” Dia menarikku. Di saf cowok, Inu sedang diledek teman-temannya. Ha ha ha.
Oh iya Teman, Cerita Godaan Berpuasa ini akan terbit di buku terbaruku. Penasaran cerita lainnya? Tunggu ya!
Tulisan ini serta ikut dalam Tantangan 10 Hari Konsisten Ngeblog Bersama IIDN.



Aiih seru mentong puasa masa kecil ta' di'. Kalau saya dulu, diiming2in duit 100 perhari kalau bisa puasa penuh.
ReplyDeleteDitunggu mba dewwwwww...released buku barunyaaa...berasa related banget ini pasti nanti kalo dibacain buat anak2 serasa flashback juga mas kecil dulu yang banyak drama seputar bulan puasa hehe..masa awal belajar puasa yang serrasa banyak banget godaannya ...aku tadi aja baca sambil senyum-senyum sendiri membayangkan kekonyolan masa anak2 ;)
ReplyDeleteYa ampun godaan puasa bagi anak-anak ternyata banyak sekali. Mamak bikin nastar wae minta batal puasa. Apalagi pas buka puasa kayak semua mau dimakan. Bikin terlambat sholat teraweh kan jadinya. Hehehe
ReplyDeleteBisa aja karena kekenyangan jadinya lupa tarawih hihi. Daku mah kalau ketiduran kaya gitu bukan di masjid tapi pas di rumah, ya jadinya nggak ke masjid malah wkwkwk.
ReplyDeleteUnik Kak Dew kisah masa kecilnya, apalagi yang sabar yak nahan puasa sampai waktu bedug.
Hihi kalau sama saudara ya gitu yaa, ada aja berantemnya. Tapi kalau berpisah kangennya numpuk.
ReplyDeleteSeru sekali masa kecilnya ya mba. Sungkem sama mama yang sudah menjadikan mba sampai saat ini.
Aku terkesan dengan ngabuburitenya dengan membaca, aah aktifitas yang sangat baik.
Wahhh godaan puasa akan jadi buku? Mantap kaliii, mungkin kita nanti akan melihat suara dan cobaan2 kita saat puasa akan nampak lebih real kalo diceritakan di buku. Semangatttt ngerjain “godaan puasa” ya mbak hehehe
ReplyDeleteCerita masa kecil belajar puasa memang seru banget, ya. Dulu kalau saya seringnya main meriam karbit atau kalau di sini disebutnya bedil lodong. Sayang sekarang sepertinya sudah sangat jarang, berganti petasan yang beragam.
ReplyDeleteKalau dengan adik kakak agak adem sih, karena kita tipikal yang lumayan tenang, jadi puasa di rumah lumayan kondusif
Wah penasaran ceritanya bakal muncul di buku yang mana nih mbak? Buku digital apa buku fisik.. penasaran, hehehe.
ReplyDeleteBaca ini jadi berasa flashback ke masa muda euy. Rindu masa-masa dahulu kala daku masih kumpul sekeluarga di Kuningan.
Cerita² saat puasa masa kecil tuh emang paling banyak diinget. Sebagian besar momennya konyol dan lucu². Hehehe.. maklum ya kan masih belajar puasa juga.. 🤭
ReplyDeleteSaya inget kalau puasaan di bulan ramadhan, inget rumah eyang. Biasanya sepupu² yang pada puasa punya aktifitas ngecamp di belakang rumah eyang. Jadi biasanya aku di undang buat main ke sana. Sambil main scrabble atau semacamnya.
Tanpa sadar, karena keasyikan, tahu² udah waktunya buat sepupuku ngaji dan akhirnya berbuka.. 🥰🥰
Ingata ramadan jaman kecil selalu menimbulkan kesan manis. Saat itu yang berat dari ramadan hanyalah menahan haus dan lapar. Ada-ada saja kelakuanku untuk bertahan puasa selama sehari. Aku masih ingat juga dulu setiap 1 hari menjelang idul fitri, aku selalu minta ijin untuk nggak puasa. Alasannya ada pasar kembang, di sana pengen jajan, hahaha. Tapi yang paling kuingat itu ngaji setiap sore sampe buka sama teman-teman di masjid. Kami paling senang kalau ada sponsor masuk, susu, chiki yang entah darimana datangnya. Oh iya, aku jadi ingat juga momen buku ramadan gara-gara Mbak sebut. Desek-desekan ngantri minta ttd imam, hm.. masa kecil yang indah :)
ReplyDeletePisang goreng buatan ibu adalah yang paling endeeeuuusss hehehe :D Ditambah lagi ada es buahnya.
ReplyDeleteAdeuh itu nastar belom lebaran keknya udah habis dicemilin yak wkwk :D
Dulu aku ngabuburit ngapain yak haha. Kyknya aku nonton tipi doank kalau nggak ya berangkat ngaji ke TPA sih :D
Hihihi bagian minta tanda tangan ke pak imam sholat taraweh tu keknya dialami semua bocil 90an ya. Kalau anak sekarang kegiatannya centang-mencetang jadwal aja, Sholat gak, puasa gak, gitu kalau aku lihat jurnal anak2ku hihihi :D
wkwkwk ternyata saking lambatnya sampai ketinggalan salat tarawihnya. kalau di tempatku salat tarawih 23 rakaat sih dan waktu kecil dulu jelaslah nggak mungkin salat 23 rakaat itu banyakan mainnya pas di musala. hehe
ReplyDeleteWaaaahhh... Aku jadi penasaran usia kalian berapa di cerita di atas? Emang waktu kecil banyak tantangan berpuasa ya. Aku sendiri baru bisa full puasa magrib satu bulan penuh waktu usia 10 tahun rasanya. Sekitar kelas 4 SD pokoknya. Sebelumnya ya masih campur-campur hahaha... Kalau tarawih selalu semangat ke musola atau masjid karena banyak teman. Sambil main. Selain harus minta tanda tangan 😁
ReplyDeleteSama saudara itu kalau dekat suka berantem, tapi kalau jauhan suka saling kangen ya
ReplyDeleteDan itu jadi kenangan banget saat kita tinggal sudah berpisah berjauhan seperti sekarang
Kenangan masa kecil memang berkesan dan memiliki arti yang sangat dalam
Hahahaa ternyata shalat tarawihnya sudah kelar ya! Emang ngga kedengeran ya di loudspeaker?
ReplyDeletejadi ngga sabar baca bukunya nih, pasti banyak cerita seru lucu seperti ini
Dulu pas di Makassar itu, saat 10 hari terakhir puasa itu, orang-orang sudah sibuk bikin kue ya, Mbak. Jadi aromanya sangat menggoda. apalagi bagi anak kecil. Makanya wajar kalau disuruh main jauh-jauh dulu agar tidak ngiler dan jadi kalla puasa'na hehehe.
ReplyDeleteDi Makassar juga rata-rata masjid tarawihnyya 11 rakaat. Makanya saya kaget pas merantau ke Jakarta dan tarawihnya 23 rakaat. Terus bacaannya cepat sekali kayak kijang yan berlari kencang hehehe.
Bener-bener godaan banget ya,Mba, sambil nunggu buka kecium aroma baking kue yang lezat. Siapa sih yang nggak tergoda. Saya kalau zaman dulu nunggu waktu buka puasa suka main sama teman-teman sebaya, main rumah-rumahan, boneka kertas, monopoli, congklak seru banget pastinya.
ReplyDeleteSama niiih godaannyaa. Dulu waktu saya kecil juga gitu mbaak, Adaa aja saat saat gak mood pergi ke mesjid buat terawih, ujung²nya nitip tanda tangan. Padahal kalau dilikirnlagi sekarang, ngapain titip² tanda tangan yaa. Itu kan sama ajaa doong. Duuh , ampun deh godaan ouasa adaa aja ya mbak.
ReplyDeleteMengalir sekali cerita saat berpuasa dulu. Sangat penuh kenangan ya mbak, akal-akalan ala anak-anak beneran ada aja emang wkwkwk. Tapi Mama tangguh, tahan godaan, nggak membiarkan kalian batal puasa hehehe. Misi gagal total pokoknya dan puasa finish hehehe. Bahkan sampe mau tarawih pun ada drama ini. Sungguh aku ngakak sekali.
ReplyDeleteSeru sih masa kecil belajar berpuasa, sampai kapan pun akan hangat diingatan.
Hahahaha serruuuu banget ya mbaa puasa jaman kicik tuu
ReplyDeletesuper duper berkesan.
entah apakah kids jaman now juga punya memory serupa nantinya
Godaan berpuasa di masa kecil itu yaa bolak-balik bertanya kapan azan eh sampai ketiduran. Selesai berbuka jadi super kenyang sampai mengantuk. Heheh...
ReplyDeleteTenda-tendaan utama itu apa yah mbak, main membuat tenda dari benda yang ada di rumah?
ada kata-kata yang membuatku bingung antara lain menyalakan nastar.
Wah keren Om Bams sedang menulis buku
ReplyDeleteSemoga lancar ya
Penasaran mau baca
Semoga ada rezeki beli bukunya
Duh, ceritanya mba jadi bikin senyum-senyum sendiri inget Ramadan zaman kecil.... Hal-hal sederhana dulu ternyata sekarang malah jadi kenangan paling hangat ya mbaaaa. Aku suka banget detail-detail kecil yang mba ceritain, jadi terasa hidup dan dekat. ngingetin yangf dulu berasaa baruy kemaren kita lalui,, ga krasa kita udah menua
ReplyDeleteWii tawwa serunya ceritanya, penasaran ta' mii mau baca cerita lainnya.
ReplyDelete*tiba-tiba mode dialek Makassar. Hahahaha. Diketik gini agak susah, emang serunya dilafalkan sih. Haahaha.
Sukses untuk bukunya yang akan terbit yaa mbak.
Ini kelamaan diceramahi dan dilambatkan jalannya ya mba wkwkwk..aku pura2 tidur saja kena sabet mba wkwk jadi mau tdk mau sigap meski ngantuk melanda :D kadang di mesjid diam dulu bbrp rakaat, dulu 11 rakaat itu berat ya skrg 23 saja rasanya masih semangat :p
ReplyDeleteRamadan saat masa kecil memang banyak kenangannya, ya. Yang paling diingat buat saya itu minta tandatangan imam usai taraweh. Kalau zaman sekarang kayaknya udah gak ada aktivitas ini, ya :D
ReplyDeleteSaya jadi inget di momen yang sama dengan mba dedew kecil. Sama lagi ouasa mama masak kue. Kan iman tergoda yaa.. Akhirnya saya diam-diam ambil 2 burir kue yang sudah matang trus diam-diam ke kamar. Makan itu kue.... Hahaha..
ReplyDeleteHahaha.
ReplyDeleteJadi ingat cerita ramadanku di masa kecil, nun jauh di Sumatera Utara.
Jam yang paling tersiksa itu menurutku mulai jam 11 sampai zuhur.
Begh, menusuk mi, perut ini. Hausnya ga ketulungan.
Momen favorit saat masuk sholat Ashar, terasa ringan nih badan.
Ternyata itu memang ada kaitannya dengan ritme biokimia pencernaan ya.
Setelah 8 jam, badan sudah terbiasa dengan glikogen yang menipis.
Tibalah waktu berbuka!
Saat itu di kampungku ditandai dengan pukulan beduq bertalu-talu berdahutan dari satu mesjid ke mesjid lainnya.
Menu wajib berbuka, teh manis hangat dan kolak pisang!
Bismillah...
Keren mba Dew, ini ada di buku cetak ya. Nulis cerita anak jadi ingat kenangan masa kecil ya.
ReplyDeleteMasa kecilku puasa seru banget di masjid terus buka kedondong di pintu masjid hahaha
ReplyDelete