Saturday, October 14, 2017

Kini Pedro Gemar Membaca Buku Berbahasa Indonesia


“Bukunya susah, Bu,” Pedro meringis, nyaris menangis.

Pedro, Anak ganteng yang mampu berbicara tiga bahasa: Indonesia, Jerman dan Inggris itu benar-benar kewalahan.

Mbak Dewi penggiat literasi berprestasi

Luh Putu Kusumadewi Yuliani, akrab dipanggil Dewi saat itu adalah seorang guru baru dan menjadi co teacher di kelas 1. Ia merasa frustrasi saat mengajar membaca anak muridnya di sebuah SD Internasional di Denpasar. Tak terbayangkan di benaknya, mengajar membaca ternyata sesulit ini.

Di sekolah, ada program membaca buku yang bertujuan merangsang anak gemar membaca buku. Setiap minggu, anak-anak mendapat tugas tambahan yang menyenangkan. Yaitu, mereka harus membawa dua buku dari perpustakaan sekolah untuk dibaca di rumah bersama orangtua. 

Dua buku bacaan itu terdiri dari satu buku cerita berbahasa Inggris dan satu buku cerita berbahasa Indonesia. Untuk tugas tambahan itu, mereka boleh memilih buku sesuai minatnya di perpustakaan sekolah.

Namun kendalanya adalah kebanyakan buku cerita berbahasa Indonesia saat itu-sekitar tahun 2005-minim ilustrasi serta berisi terlalu banyak tulisan.

Pedro dan teman-teman kini gemar membaca buku berbahasa Indonesia

Untuk anak kelas satu yang baru belajar membaca alias berada di level pemula, hal ini menjadi kesulitan tersendiri. Anak-anak stres ketika membaca buku cerita berbahasa Indonesia. Bermunculan keluhan dari anak-anak di kelas. Tak hanya dari Pedro. 

Untuk buku bacaan berbahasa Inggris, hal itu takkan terjadi. Karena setiap buku bacaan berbahasa Inggris untuk anak-anak sudah dilengkapi dengan level atau tingkatan yang jelas.

Misalnya, buku bacaan level I untuk pembaca pemula (first reader) lebih banyak berisi ilustrasi dan minim tulisan. Teks buku bacaan level 1 biasanya hanya terdiri dari satu kalimat setiap satu halaman ilustrasi. Bayangkan, stresnya anak saat mendapat buku berbahasa Indonesia dengan teks panjang dan tanpa gambar?

Aduh, bagaimana ini?
Ibu guru kelahiran Mojokerto ini pun putar otak bagaimana menyiasatinya. Tidak mungkin kan, ia memaksa anak membaca buku yang tidak sesuai kemampuan. Dewi lalu minta izin pada guru ekspatriat untuk menerjemahkan buku cerita berbahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Pihak sekolah setuju dan menyediakan buku-bukunya.

para penulis cerita anak yang bersemangat membuat buku-buku bergizi

Hasil terjemahan buku berbahasa Inggris inilah yang kemudian digunakan untuk bahan pendamping belajar membaca anak-anak kelas 1. Juga dijadikan buku bacaan di rumah. Kemampuan berbahasa Indonesia para murid pun mulai meningkat. Anak-anak menikmati buku terjemahan karya Bu Dewi dan teman-teman.

Seiring berjalannya waktu, Dewi dan para guru di sekolah mulai memikirkan bagaimana menyediakan buku-buku berbahasa Indonesia yang sesuai kebutuhan anak. Hebatnya, Kepala Sekolah sangat mendukung usaha para guru untuk menyediakan buku bacaan berbahasa Indonesia. 

Setiap tahun,  pihak sekolah mengunjungi toko buku untuk membeli buku-buku berbahasa indonesia. Meskipun begitu, mereka masih kesulitan mendapatkan buku berbahasa Indonesia untuk pembaca pemula selain buku-buku yang mereka terjemahkan sendiri.

Hm, Kenapa tidak menulis buku sendiri? Ide menarik itu muncul di benak Dewi. Sebuah ide jenius, namun rasanya sulit terwujud. Menulis buku anak kan tidak mudah. Bagaimana caranya? 

I don’t know, Let’s do it!
Ya, Para guru pun mulai menulis buku-buku sederhana yang sesuai untuk pembaca pemula. Tentu tidak mudah ya, menulis buku anak.

Bersama penulis cerita anak membuat buku yang menarik untuk pembaca pemula

Jumlah halaman buku anak memang sedikit tetapi ceritanya harus gampang dimengerti dan menghibur. Jangan sampai, bukunya terlalu menggurui dan membosankan pembaca cilik. Tapi, mereka berusaha untuk belajar merangkai kata. Tertatih-tatih, tapi tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha. 

Satu kendala para guru adalah bagaimana dengan ilustrasinya? Tak ada guru yang bisa menggambar! Untungnya, sekolah berlangganan website Reading A-Z dimana para guru memiliki akses untuk mengambil ilustrasi lucu dan menarik. Jadi, selain menerjemahkan cerita dari website, para guru juga mengambil ilustrasi yang sesuai untuk buku karya mereka.

Buku yang dibuat Bu Dewi dkk saat merintis kegiatan literasi diterjemahkan dari buku berbahasa Inggris
Untuk menunjukkan keseriusan, kepala sekolah bahkan membebastugaskan guru kelas 1 Bu Utami dari kegiatan mengajar agar fokus pada kegiatan menulis buku. Dewi dan 4 orang guru lain yang tergabung dalam Komite Buku bertugas mengeditnya. Tak hanya itu, Para guru juga kerap ditugaskan ikut pelatihan menulis buku anak di luar sekolah untuk meningkatkan keterampilan.

Sejak saat itu, kebutuhan buku bacaan berbahasa Indonesia di sekolah terpenuhi. Pedro kini gemar membaca buku cerita berbahasa Indonesia. Pedro dan siswa lainnya menunjukkan minat tinggi pada literasi Indonesia. Ditandai dengan banyaknya siswa meminjam buku berbahasa Indonesia di perpustakaan.

Tentu saja, kemampuan dan keterampilan berbahasa Indonesia para siswa pun meningkat pesat. Betapa bahagianya pihak sekolah dan orangtua murid. Kerja keras mereka membuahkan hasil.

Ikut pelatihan menulis buku anak untuk mengasah kemampuan

Ya, menyukseskan gerakan literasi di sekolah memang tidak mudah. Merangsang minat baca anak dan menumbuhkan kebudayaan membaca butuh jalan berliku. Tapi, bukan berarti tidak mungkin.

Walaupun menghadapi berbagai kendala dan keterbatasan sumber daya, kita bisa melakukannya asal ada kemauan dan berusaha konsisten. Tidak gampang menyerah. Karena kita tahu, hasilnya tidak langsung nampak saat itu juga. Tapi, mungkin beberapa tahun ke depan. 

Usaha para guru di sebuah sekolah dasar di Denpasar untuk menyediakan buku bacaan berbahasa Indonesia kemudian mengilhami mereka untuk membangun gerakan literasi dengan skala lebih besar.

Dua buku cerita anak berbahasa Indonesia karya Bu Dewi yang diterbitkan YLAI

Tak hanya di sekolah mereka saja, tapi juga menumbuhkan minat baca di sekolah-sekolah di Bali. Bahkan di luar provinsi. Dibawah naungan Yayasan Literasi Anak Indonesia, para guru dan relawan tak hanya berusaha merangsang minat baca tapi juga menyediakan buku bacaan yang sesuai untuk kemampuan anak. 

Bagi Dewi, bergabung dengan sebuah komunitas membuat para penggiat literasi ini tak merasa berjuang sendirian. Mereka saling dukung satu-sama lain. Juga merasakan kebanggaan yang sama ketika buku-buku yang mereka tulis dahulu sudah tersebar di seluruh Indonesia bahkan sampai di Australia.

Ya, bagi Dewi dan teman-teman, perjuangan sebagai penggiat literasi adalah kegiatan yang menyenangkan dan membahagiakan karena menebarkan manfaat untuk orang lain di sekeliling mereka. 

Bersama rekan pengajar di sekolah

Walaupun mereka harus pintar-pintar membagi waktu antara kegiatan mengajar, mengurus keluarga dan menggiatkan kegiatan literasi, Dewi yang hobi membaca ini mengaku enjoy menjalaninya.

“Iya, dibawa fun aja. Saya ngajar dari jam 7.30 sampai jam 4. Tapi sering molor waktu pulangnya. Selebihnya, saya ngurus keluarga.

Nah sebagai penggiat literasi ya kami lakukan disela-sela kegiatan mengajar, atau saat libur sekolah,” ujar peraih Grand Prize Award Samsung Kids Times Award di Singapura itu ringan. 


Kegiatan bincang buku setelah kegiatan membaca buku 15 menit setiap hari

Betul sekali ya, Semuanya terasa ringan karena didasari oleh rasa cinta dan kepedulian akan masa depan anak-anak Indonesia. Dewi mengaku bangga dan bahagia dengan program Gerakan Literasi Sekolah yang digaungkan pemerintah Indonesia saat ini.

Karena itu, Dewi ingin sekali berbagi pengalaman bagaimana mereka mampu menggerakkan literasi di sekolah sejak 12 tahun lalu pada teman-teman pengajar SD di seluruh Indonesia. Jika ingin berdiskusi dengan beliau, colek aku saja ya untuk nomer kontaknya. Terima kasih sudah membaca artikel ini. Salam Literasi Indonesia!

Sumber Foto: Luh Putu Dewi Yuliani dan 
Dewi Rieka

32 comments:

  1. Wah bu dewi ini sosok guru yang patut ditiru, rajin ikut pelatihan menulis, gabung literasi, biar anak sd dan yang lainnya gemar membaca buku 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Kakak semua....
      Ini karena kami kami ga berhenti berusaha untuk literasi Indonesia

      Delete
  2. Wow, Menarik sekali kisah perjuangannya. Bisa ditiru nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mari sama-sama berjuang demi pendidikan yang lebih baik.

      Delete
  3. sekolahnya bagus banget ya, segitu niatnya demi menggalakkan budaya membaca :D saluuuut. sama mba dedew juga syaluuutz (pakek z) hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sangat bersyukur diberikan ruang bertumbuh dan berkembang oleh sekolah di tempat saya bekerja

      Delete
  4. Semoga makin banyak guru2 spt bu dewi ya mbak

    ReplyDelete
  5. Inspiring mbak.
    Iya sih, saya pun saat kecil dulu suka bosen kalau baca buku yg tulisannya panjang, ilustrasi dikit.

    ReplyDelete
  6. keren. gak menunggu tapi aksi nyata. sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  7. Inspiring sekali bu dewi.aku juga nih masih kendala menumbuhkan minat baca sama anak2 disekolah :(

    ReplyDelete
  8. Keren sekali bu dewi...minat baca memang harus di latih sejak dini. Nah untuk melatih niat baca juga membutuhkan konten yang tidak membosankan. Terimakasih kisahnya...sangat inspiring.

    ReplyDelete
  9. Bu Dewi menginspirasi banget nih, moga banyak yang mengikutinya

    ReplyDelete
  10. keren sekali bu dewi, semoga dapat mengispirasi guru2 yang lain

    ReplyDelete
  11. Bu Putu Dewi keren banget. Kepseknya juga keren. Dulu, zaman masih ngantor di lembaga pendidikan, pernah punya atasan yang care banget dengan buku dan kegemaran membaca begini. Eh, ketika beliau diganti, penggantinya berbeda 180 derajat. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sendiri salut dengan kedua kepala sekolah kami masa itu. Perjuangan mereka pun berbuah hasil.

      Delete
  12. Keren, Dew. Senang membaca postingan seputar dunia literasi darimu.

    ReplyDelete
  13. Inspiratif banget nih.. Siapa tau energi positifnya menular, thanks kak sharingnya

    ReplyDelete
  14. Salut dengan ibu Dewi, moga jadi inspirasi bagi guru2 lainnya.

    ReplyDelete
  15. Wah..bisa ditiru ya. Matur nuwun sharingnya

    ReplyDelete
  16. Minat membaca di indonesia terlalu rendah makanya buku2 yg dihasilkan jadi sedikit. Beruntung mba dedew dan bu guru dewi selalu punya ide dan karya brilian buat kita semua

    ReplyDelete
  17. Keren bu Dewi.. Aku ikut seneng ada guru yang sangat bersemangat seperti bu Dewi. Sukses terus bu..

    ReplyDelete
  18. Ya Allah, Mbak, ini Bu Dewi keren banget ya. Waktunya di sekolah sampai jam 4 tapi masih produktif.

    Terus lingkungan yang mendukung memang lah satu faktor kesuksesan orang ya. Sip sip, semoga Bu Dewi dkk penggiat literasi di luar sana makin produktif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak kenal lelah untuk literasi. Saluut

      Delete
  19. Keren ya bu dewi. Semoga banyak guru2 yqng kreatif seperti beliau.

    ReplyDelete
  20. Kereeen... Sya pngen menggerakkn literasi di murid smp yg saya ajar..
    Bgaiman mngawalinya n sharing sm siapa y? Mbk dew? Kereeen bu Dewi

    ReplyDelete
  21. Selamaaat.. Ternyata artikel ini menang.... Lombanya berkelompok?

    ReplyDelete
  22. superb nih mbak idenya, saya aja juga ngebayangin nanti gimana memperkenalkan anak pada bahasa saya, karena saya menikah dengan WN Belanda dan akan tinggal disana .. hmm semoga dimudahkan, dan apakah buku-buku ini dijual on line?

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...