Dear Teman,
Pernahkah kamu merasa tidak percaya diri dengan suatu hal yang biasa kamu lakukan hingga kamu takut memulai kembali?
Inilah yang terjadi pada diriku saat ini.
Aku adalah seorang penulis buku yang menulis buku pertamaku tahun 2006. Sejak itu, aku sudah menulis sekitar 40 buku berbagai genre di penerbit. Terakhir, aku menerbitkan buku tahun 2018. Sejak itu, aku kebanyakan liputan dan ngeblog, ngejuri dan lainnya. Aku merasakan uang cepat dari ngeblog, ngejuri lomba, dan mengajar.
Selebihnya, aku menulis beberapa novel di platform online.
Nah, sejak dua tahun lalu, ada rasa rindu untuk menulis buku cetak lagi. Juga ingin menabung lagi untuk kebutuhan anak-anak kuliah. Dan ternyata, rasanya sulit untuk kembali. Bukan hanya sulit menulis naskah buku yang mencapai ratusan halaman, tapi juga bagaimana menawarkan ke berbagai penerbit. Rasanya kini makin sulit. Padahal, menulis dan mencari penerbit sudah kulakukan sejak puluhan tahun lalu.
Ternyata, hal ini bukan hanya aku yang merasakan hal seperti ini. Temanku penulis novel, Dyah Prameswarie dari Bandung juga merasakannya. Lebih sulit untuk kembali ya ketika kita sudah menulis beberapa buku dibandingkan saat pertama menulis buku pertamanya.
Ya, menulis naskah buku membutuhkan napas jauh lebih panjang dibandingkan membuat satu artikel di blog. Ada perasaan yang sulit dijelaskan saat akan memulai proses menulis naskah buku baru ini. Ada perasaan excited dan bahagia akan memulai cerita baru. Perasaan akan menjalani suatu petualangan bersama para tokoh cerita yang akrab di hati kita.
Tapi perasaan khawatir juga mendominasiku.
Rasa tidak percaya diri apakah ceritaku akan disukai redaksi dan terutama para pembaca. Perasaan khawatir takut ceritanya macet di tengah jalan atau mendadak tidak ada ide.
Setelah sekian lama tidak menulis cerita lagi. Rasanya situasi dunia penerbitan pun berubah drastis karena perkembangan teknologi. Banyak bermunculan penulis-penulis baru, muda dan dengan ide-ide segar. Menawarkan naskah ke penerbit di masa seperti ini juga tak mudah. Penerbit lebih selektif. Ah, rasanya berat untuk memulai kembali!
Apa lagi, ketika naskah novel remajaku ditolak sebuah penerbit setelah menunggu kabar selama tiga bulan. Rasa percaya diriku melorot. Huhu. Apakah tulisanku sejelek itu?
Apakah tahun ini aku bisa comeback menerbitkan buku baruku? Apakah ini artinya aku harus berhenti menulis buku? Kisah-kisahku ketinggalan zaman? Aku terlalu tua untuk menulis? Ah, jadi overthinking.
Malu dong pada Bu Reda Gaudiamo yang selalu semangat menulis buku dan berkarya.
Tak hanya buku, ia menyanyi, mengajar, membuat rumah buku, membuat konten di media sosial, mengeksplorasi banyak hal baru agar tetap kreatif mencipta. Kami punya kesamaan, sama-sama cinta menulis.
Aku ingin setangguh beliau. Sungguh menginspirasi.
Ya, aku cinta menulis. Aku menyukai proses menulis yang terasa menantang, rumit tapi menyenangkan. Bak menyusun kepingan puzzle kecil-kecil. Mulai dari mengumpulkan ide yang berserak, merancang ceritanya, menuliskannya siang dan malam. Berusaha menemukan ending yang tepat untuk para tokohku.
Mencari penerbit? Ya, memang tidak mudah. Sejak dulu tak mudah. Buktinya, kali ini aku ditolak. Tapi, bukan berarti tulisanku jelek. Hanya saja, seperti kata surat penolakan mereka naskah yang mereka cari bukan naskahku. Jadi, aku akan berusaha mencari penerbit lain yang klik dengan naskahku.
Sambil terus menulis naskah-naskah buku yang lain dengan penghayatan penuh. Menikmati setiap prosesnya kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf hingga terjalin satu naskah buku yang utuh. Aku yakin, akan ada penerbit yang menantikan dan menyukai naskah yang kurajut ini.
Ya, tugasku sebagai perempuan bicara rasa, merangkai kata-kata, menyelesaikannya dan mencari jodoh untuk naskahku. Lalu, banyak-banyak melangitkan doa pada Allah agar segalanya dilancarkan. Hasilnya, terserah pada Allah. Tugasku sudah selesai. Bagaimanapun, aku adalah penulis, yang mencintai proses menulis sepenuh hati.
Aku enyahkan rasa minder dan khawatir ini. Aku yakin, aku bisa menulis dan menerbitkan buku yang seru lagi. Doakan aku, agar tahun ini aku punya berita baik, bisa menerbitkan buku baru, bisa berkeliling Indonesia untuk sharing tentang buku itu. Aamiin..
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026



Ya rasa minder memang muncul atas beberapa faktor, diantaranya sekarang banyak pemain pemain baru yang lebih segar di bidang tertentu juga bisa bikin kita jadi minder untuk berkarya, hal ini juga yang berhasil merubah profesi saya yang dulu pernah dijalani.
ReplyDeleteNamun jika kita masih punya power untuk bersaing secara kompetitif maka sebaiknya kita lakukan lagi tanpa harus tengok kanan kiri
Aku ikut merasakan rasa minder dan kekhawatirannya, Mbak. Kadang memulai kembali memang terasa lebih menakutkan daripada saat pertama kali mencoba, apalagi setelah lama berhenti dan melihat dunia penerbitan sudah banyak berubah. Tapi pengalaman menulis puluhan buku tentu tidak hilang begitu saja.
ReplyDeleteDan entah kalau udah dengar nama penolakan tuh, bikin perasaan penulis tuh jadi nano-nano. Antara minder sama kemampuan atau sama naskahnya. Aku justru baru tahu akhir-akhir ini, ternyata tiap penerbit punya ciri khas tersendiri dalam cetak buku.. :)
Aku menantikan buku mu lagiiiiii mba dew 😍😍. Berat memang yaaa utk menerbitkan buku kembali. Padahal mba dew mah udah orang lama di bidang ini, tp tantangannya masih ada aja...
ReplyDeleteAku yakin itu karena blm ketemu jodoh penerbit nya aja. Tulisan mba aku sukaaa kok. Semoga nanti, dimudahkan jalan dan ada penerbit yg meminang karya mba dew 😘
Semoga keinginan dan harapan nya bisa keliling Indonesia memperkenalkan buku terbarunya bisa terkabul. Aamiin...
ReplyDeleteMinder ini wajar tapi bisa diatasi kok ya
Saya sebenarnya gak pernah merasa minder
Tapi suami dan anak tuh yg waduh, minder akit...
Tapi kembali ke alasannya, dan memang wajar merasa minder selama itu masih bisa diatasi dan yang bersangkutan mau mengalahkannya
Seringnya memulai kembali memang jauh lebih sulit ketimbang mengawali. Tapi, saat satu cerita ditolak oleh satu penerbit, bukan berarti ceritanya jelek, Kakak. Mungkin memang nggak cocok sama penerbitnya.
ReplyDeleteBuruan halau mindernya dan cari penerbit yang lain. Semangat, kakak.
Wah, aku malah sekali jadi penulis buku -even antologi- aja belom kesampean mbak. yah, apapun itu.. untuk sekarang ini aku bersyukur aja si bahwasanya blogku masih lumayan kepegang. Walau masih sering keteteran, tapi setidaknya untuk trafiic masih oke, dan kontennya pun membaik dari waktu ke waktu.
ReplyDeleteBismillah, moga aja nanti kalau waktunya tiba, sudah siap untuk menuliskan cerita di buku sendiri :)
semangat terus, mbak! akupun sampai sekarang masih belum selesai nih naskah novelku yang sudah kutulis bertahun-tahun lalu. ini ada sih mulai nulis lagi satu dua halaman semoga aja tahun ini bisa tamat
ReplyDeleteMbak Dewi yang sudah berkarya sebagai penulis selama kurang lebih 20 tahun, bukunya sudah banyak diterbitkan bahkan ada yang menjadi best seller, ternyata di satu titik tetap pernah merasa minder. Apalagi aku yang sampai sekarang belum pernah menerbitkan buku solo. Jadi, rasanya perasaan itu memang bisa datang ke siapa saja ya, Mbak.
ReplyDeleteTapi kalau melihat penyebabnya, menurutku kadang minder itu juga muncul karena kita terlalu fokus pada penolakan. Padahal penolakan bukan berarti tulisan kita buruk, bisa jadi memang belum berjodoh dengan penerbit atau belum bertemu momentum yang tepat. Aku percaya setiap tulisan punya jalannya sendiri.
Aku jadi ingat pengalaman waktu awal-awal rajin mengirim tulisan ke media, tahun 2014. Beberapa kali tulisanku ditolak dan sempat bikin bertanya-tanya, "Apa tulisanku memang kurang bagus?" Tapi ternyata setelah kukirim ke media lain, justru disambut hangat dan dimuat. Bahkan beberapa waktu kemudian, malah pihak medianya yang menghubungiku untuk menulis. Dari situ aku belajar kalau penolakan itu sering kali cuma soal kecocokan, bukan soal kemampuan :)
Mungkin salah satu cara menghalau minder adalah berhenti membandingkan diri dengan orang lain deh mbak, lalu fokus terus berkarya. Karena setiap tulisan yang selesai dibuat sebenarnya sudah menjadi sebuah kemajuan. Sisanya tinggal ikhtiar, belajar, dan bersabar menunggu pintu yang tepat terbuka. Insha Allah.
Semangat terus ya, Mbak Dewi. Aku ikut mendoakan semoga harapan menerbitkan buku baru tahun ini bisa terwujud, dipertemukan dengan penerbit yang tepat, dan bukunya nanti kembali disambut hangat oleh para pembaca. Aamiin. 🤗
Di momen rasa PD kak Dewi runtuh gegara naskahnya ditolak penerbit, daku pun pernah merasakan hal itu. Daku buat istilahnya merevisi naskah biar cakepan, eh mager, jadinya malah nengok buat nulis blog aja hahaha. Cuss lah #SemangatCiee selalu kita, biar terus berkarya
ReplyDeleteAhhh Mbak Dedew. Tulisan tentang mindernya Mbak Dew tapi bikin aku dapet suntikan semangat, lho.
ReplyDeleteSoalnya aku udah lamaaaa gak nulis blog dan mau balik rajin nulis tuh susah! Huhu. Baca ini jadi semangat buat berusaha lebih keras lagi. Karena semakin lama aku hiatus bakal semakin sulit buat balik lagi deh kayaknya.
So, yukkk semangat kitaaa :)))
Perasaan minder dan overthinking itu wajar banget muncul, apalagi pas mau mulai melangkah lagi setelah sempat rehat. Tapi ingat, jam terbang melahirkan 40 buku itu bukti nyata Mbak memang penulis yang luar biasa!
ReplyDeleteSatu penolakan bukan berarti naskahnya jelek, cuma belum ketemu penerbit yang jodoh aja. Suka banget sama semangatnya yang kembali bangkit. Tetap menikmati setiap proses merangkai katanya ya, Mbak. Aku ikut mendoakan semoga tahun ini ada kabar baik, bukunya terbit, dan sukses keliling Indonesia. Aamiin!
Mungkin ini bagian dari Half-Life-Syndrome ya Mba?
ReplyDeleteKan kita udah umur 40++ , jadi semacam ada mixed feelings gitu mba
Ada rasa syukur karena telah diperjalankan sampai usia sebanyak ini.
sekaligus ada minder yg merongrong.
Apapun itu.... semangaaaatttt untuk kita semua!
Busyeeet, udah nulis lbh dr 40 buku aja msh ditolak penerbit? Kurang apa deh pengalaman menulisnya. Tp emg bener sih kak. Banyak penerbit skrg lbh suka satu niche. Jd akan ngebranding penerbit itu melalui buku2 yg diterbitkannya. Kompas Gramedia pun skrg udh begitu. Bikin anak2 usaha baru buat mewadahi buku yg diterbitkannya.
ReplyDeleteSmg mkn berjodoh dgn penerbit baru yg ngasih royalti lbh baik ya kak. Apalagi bs berjodoh dgn penerbit besar yg mau menerbitkan karya kita. Duh impian semua penulis ini mah.
Kalau Mbake Dew yang sudah menulis puluhan buku, sekarang agak ga pede, apa kabar dengan saya yang baru menulis buku hitungan jari. Itu pun buku anak yang napasnya pendek.
ReplyDeleteTapi memang, untuk kembali menulis itu setelah vakum walau sejenak, rasanya berat. Saya pun mengalaminya. Saya lama ga nulis cerpen dan dongeng anak. Pas mau nulie lagi, rasanya berat. Apalagi coba ikut lomba atau audisi sana sini gagal mulu hehehe.
Tapi saya rasa terus kobarkan semangat menulis dalam diri ya, Mbak. Pelan-pelan tapi pasti. Memang zaman now menerbitkan buku penuh perjuangan. Tapi pasti ada jalannya.
Mbak Dedew, tetap semangat ya. Aku yakin tulisan mbak akan menemukan penerbit yang beneran pas. Jangan menyerah karena sempat tertolak. Apalagi mbak sudah pernah menerbitkan 40 buku. Pastinya sudah banyak pengalaman dan aral melintang di dunia kepenulisan ya.
ReplyDeleteTetap semangat, semoga dilancarkan dan segera menemukan penerbit yang pas, bukunya laris manis. Jujur, aku tahun ini pengen nerbitin satu novel, tapiii aku tau nafas nulis novel ini panjang, makanya aku masih harus memotivasi diri sendiri juga.
Ganbatte ya mbak. Semoga lancar proses nya dan segera terbit bukunya.
Penulis senior dan berpengalaman seperti mbak Dedew aja bisa merasa minder, apalagi yang pemula dan masih belajar kaya saya. Memang menulis novel itu tidak mudah ya mbak. Butuh konsistensi jangka panjang. Apalagi mencari penerbit. Kurasa lebih rumit lagi itu.
ReplyDeleteTapi apapun, semoga usaha mbak bisa segera membuahkan hasil. Semoga karyanya segera terbit lagi dan dinikmati pembaca. Semangat!
Ka Dew...
ReplyDeleteSekeren ka Dew masih pernah merasakan drop dan tidak semangat karena naskah ditolak yaah..
Alhamdulillah...
Ketika “Perempuan Bicara Rasa”, kita semua pernah mengalami yang namanya jungkir baliknya tetap konsisten berada di core yang kita senangi.
Seneng juga ada temen curhat ke sesama penulis.
Semoga semakin banyak "rasa" yang tersalurkan melalui karya kerennya ka Dew..
Barakallahu fiik~
Saya setuju bahwa rasa minder sering kali justru menjadi penghalang terbesar untuk kembali melangkah. Padahal kemampuan dan pengalaman yang dimiliki sebenarnya tidak hilang begitu saja. Semoga semangat untuk terus berkarya tetap terjaga dan naskah yang sedang diperjuangkan segera menemukan penerbit yang tepat.
ReplyDeletebeneran ini, menulis buku itu panjaaaang banget napasnya apalagi novel. Mau mencoba menulis kumpulan cerpen aja belum selesai-selesai aku mbak. NAskah novelku akhirnya kuubah aja jadi cerpen secara lelah untuk melanjutkannya
ReplyDeleteeh kok jadi curhat
btw semoga ada berita baik akhir tahun ini, buku mbak Dewi lahir kembali, ditunggu ya mbak bukunya
Mbaaakk jangan minder, kalau mbak minder aku apa atuuuu hahahahaha :D
ReplyDeleteMbak Dedew mah keren, karyanya udah banyak di mana2.Walaupun mungkin agak lama buku2 sebelumnya cetak tetapi kan tetep yang nulis dirimu, buku2nya pun masih banyak ditemukan di toko buku, jadi kebermanfaatannya insyaAllah lanjuuutt :D
Ternyata setelah dunia ngeblog agak sepi, jadi kesempatan baik untuk menulis buku cetak lagi yaa. Hmmmjadi berasa kek mulai lagi seperti dulu gitu ya mbak. Tapi insyaAllah sih nanti cepat akan lambat akan ketemu jodoh penerbitnya yaa. Semangaat :D
Ah yaaa Bu Reda menginspirasi yaa. Almarhum Bu NH Dini jugaaa aku suka. Duh kapan ya aku bisa menulis buku solo juga hehe.
Ah, i feel you mbak
ReplyDeleteAku juga merasakan keminderan itu
Bismillah, semoga lancar untuk proyek buku barunya ya mbak
Aku selalu berada di titik minder ini
ReplyDeleteBahkan sering menangis karena merasa tak mampu
Padahal setiap orang punya kelebihan dan kekurangan
Fokus kelebihan itu lebih penting
wah... jadi terinspirasi dengan perjalanan ibu dalam menulis buku. saya pun demikian ibu kalau sudah dihadapkan pada padatnya kegiatan, jadi bingung untuk memulai menulis. tapi membaca perjalanan sepertinya harus diikuiti juga nih
ReplyDeleteMinder itu manusiawi, tapi bisa diatasi apabila Kita tahu apa yang Kita kerjakan sehingga menjadi percaya diri. Soalnya sayang potensi diri kalah dengan keminderan ini
ReplyDelete