Peran Aktif Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi - Small Things, Kecil Tapi Penting

Peran Aktif Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi

Dear Temans,

Kenapa ya, masyarakat Indonesia sering termakan berita hoaks dan mudah berantem hanya karena judul berita online yang tak jelas asal-usulnya? Belum dibaca isi beritanya, sudah menghujat di kolom komentar atau langsung reaktif membagikan berita tersebut ke teman-teman tanpa cek dan ricek faktanya?


Peran Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi
Gemar membaca dimulai dari keluarga


Sudah sering kita dengar artikel di media massa yang mengungkapkan bahwa peringkat literasi Indonesia sangat jeblok.

Banyak yang merujuk  hasil penelitian 'World's Most Literate Nations' yang diumumkan pada Maret 2016,  diterbitkan oleh Central Connecticut State University (CCSU).

Menurut hasil penelitian mereka, Indonesia meraih peringkat 62 dari 72 negara yang diteliti. Padahal, angka melek huruf Indonesia sudah mencapai 91%. Jadi, rata-rata penduduk Indonesia sudah bisa membaca tapi kurang minat membaca. Betulkah?

Sebenarnya, apa pengertian literasi?

Pengertian Literasi menurut KBBI adalah kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu.

Literasi adalah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.  Biasanya dikaitkan dengan kecakapan membaca dan menulis seseorang.

Dengan kecakapan mengolah informasi, dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kualitas diri dan taraf hidupnya. Dengan membaca, membuka pintu segala peluang yang ada.


Apa mungkin ya, karena kurang suka baca inilah mengapa masyarakat kita mudah tersulut emosinya karena berita hoaks di Watsapp dan akhirnya pecah pertengkaran di dunia maya. Sedih, kan!

Harga buku yang mahal, maraknya tontonan televisi dan Youtube, sering menjadi kambing hitam mengapa budaya literasi di masyarakat Indonesia dianggap rendah.

Minat Baca Masyarakat Rendah?
Tentu tidak!

Padahal, jika kita tanyakan kepada para penggiat literasi di berbagai daerah seperti Mas Ardie Kafha pengurus Taman Bacaan LantaiKota dari Ungaran dan Mas Yulianto dari Taman Bacaan Bintang Grobogan, mereka tak setuju pernyataan ini.

Tak benar, bahwa minat baca masyarakat terutama anak-anak rendah. Anak-anak selalu antusias dengan bacaan yang baru. Apalagi buku dengan cerita dan ilustrasi yang menarik.

Menurut Mas Yulianto, minat baca menjadi rendah karena di daerahnya, buku saja susah di dapat, akses buku bacaan terbatas, tidak meratanya buku bacaan di setiap tempat.

"Tidak adanya pembiasaan dari keluarga dan lingkungan. Tidak ada buku untuk anak, ditambah lagi tidak ada kebiasaan baik untuk mendampingi anak atau membacakan buku jadi keadaan makin parah," tukas Mas Yulianto.

Nah, sudah paham bukan akar permasalahannya selain kurangnya meratanya buku, kita sebagai orang tua jarang mendampingi anak membaca buku, mengajaknya mencintai buku. Bagaimana anak mau cinta buku jika orangtuanya saja lebih suka menekuri layar gawai?

Bagaimana caranya agar membaca buku bisa jadi budaya masyarakat kita seperti orang Jepang atau Korea yang terkenal gemar membaca?

Pemerintah mendukung upaya membudayakan membaca ini dengan mencanangkan gerakan literasi nasional sejak 2016.

Gerakan ini memiliki tiga cabang yaitu gerakan literasi keluarga, gerakan literasi sekolah, dan gerakan literasi masyarakat. Diharapkan dengan adanya sinergi antara  keluarga, sekolah dan masyarakat akan meningkatkan budaya literasi Indonesia.

Budaya Literasi Dimulai dari Rumah

Agar literasi atau gerakan membaca ini menjadi budaya, sebaiknya kita mulai dulu dari keluarga dan lingkungan sekitar. Banyak cara membiasakan anak agar suka membaca dan kemudian lanjut menulis.

Peran Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi
Membaca komik kesukaan 

Salah satunya dengan membiasakan anak-anak bergaul dengan buku. Letakkan buku-buku ditempat yang terjangkau anak. Biarkan mereka tertarik untuk membuka-buka buku dan menikmati gambarnya yang penuh warna.

Pilihkan buku yang sesuai usia anak, jadi anak balita dibelikan boardbook atau buku dengan karton tebal, jangan buku dengan kertas biasa. Mamanya bisa menangis kalau bukunya disobek. Lebih parah lagi , beli buku tapi disimpan di lemari terkunci, takut anak menyobeknya..

Saat anak-anak balita, aku membeli sepaket buku Halo Balita berharga jutaan rupiah dengan cara arisan selama 10 bulan. Tak disangka, buku-buku ini menjadi awal kecintaan anak-anakku pada buku.

Biasakan membaca buku cerita dengan anak sebelum tidur atau saat waktu luang. Perkenalkan mereka dengan cerita-cerita dongeng yang menggugah. Cerita anak bisa Ayah dan Bunda unggah di website Room To Read atau website PAUD Kemdikbud di internet. Ya, buku tidak harus berbentuk fisik, e-book pun menarik untuk anak.

Jika anak terbiasa berakrab-akrab dengan buku maka Insya Allah ia tetap akan mencintai buku hingga dewasa nanti. Walaupun nanti sudah mengenal YouTube, internet, dan berbagai game online.

Mengajak anak berdiskusi tentang buku yang sedang dibacanya juga kebiasaan yang  bagus agar anak terbiasa membaca. Hal ini dilakukan oleh Mas Ardie Kafha, penggiat taman bacaan LantaiKota dan aktivis Keluarga Literasi Ungaran di Lerep, Ungaran.

Peran Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi
Mas Ardie berdiskusi tentang buku
 (FB Kafha)
Lelaki pecinta buku ini, menularkan kebiasaan berdiskusi pada kedua anak lelakinya yang berusia sekolah dasar. Kedua buah hati Mas Ardie, terbiasa mengobrol tentang buku. Mereka bertiga memilih buku living book klasik seperti To kill a mocking bird, secret garden dan Black Beauty.

Menurut Mas Ardie, Living books adalah buku yang mengandung ide-ide dan gagasan yang hidup. Asupan ide dari living books sangat diperlukan  oleh anak supaya benaknya bertumbuh.

Mereka suka mengobrol tentang perilaku tokoh dan nilai-nilai yang mereka anut. Banyak pertanyaan seputar buku yang  dilontarkan anak-anak Mas Ardie. Mengapa Atticus Finch membela seorang pemuda kulit hitam dalam buku To Kill a Mockingbird? Pertanyaan itu kemudian mereka gali bersama-sama lewat diskusi dan bedah buku kecil.

Jadi, bukan tak mungkin, anak usia SD mampu melahap buku-buku tebal yang bermakna dalam, serta dianggap berat. Hal ini tergantung budaya literasi sebuah keluarga.

Salah hal yang menarik adalah, jika kita mengajak anak untuk cinta baca, biasanya ia akan tertarik untuk mulai menulis. Semacam satu paket yang menarik, ya.

Peran Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi
Baca di Perpustakaan Nasional RI

Karena suka membaca buku, anak saya Nailah Aieola Nabihah yang kini berusia 11 tahun jadi tertarik menulis cerita sendiri. Nailah menggemari buku seri anak Mamak Tere Liye dan Buku Sebuah Lorong di Kotaku karya NH. Dini.

Nailah jadi suka menulis  cerita dan mengunggahnya di blog sederhana www.ceritanai.blogspot.com. Cerita-cerita ini akan menjadi kenangan saat ia dewasa kelak. Kesukaan menulis sejak dini akan menjadi bekal yang berharga untuk masa depannya kelak.


Hal ini juga dirasakan Astari Ratnadya Sumardiono. Gadis kelahiran Gadis Minang kelahiran Palembang 18 Agustus tahun 1992 ini memang travel blogger berprestasi yang sempat saya tulis kisahnya di blog.

Tari, begitu teman-teman kerap memanggilnya adalah lulusan S1 Universitas Sahid Jurusan Manajemen Pemasaran tahun 2016. Ia begitu menikmati aktivitasnya sebagai  travel blogger.

Pertama kali diajak travelling ala roadtrip oleh ayahnya saat berumur 5 tahun, saat pulang kampung ke Bukittinggi. Tari mulai suka sekali travelling saat duduk dikelas 3 SD.

Ia selalu menantikan momen roadtrip dengan excited bersama tiga saudara serta Ayah dan Ibunya. Apalagi Ayah Tari, dulu mewajibkan anak-anaknya untuk menulis cerita sepulang dari jalan-jalan.

Astari jadi terbiasa untuk menulis kisah perjalanannya setiap pulang jalan-jalan. Profesi menulis blog perjalanan tak sengaja digeluti setelah ia memenangkan hadiah perjalanan ke Flores. Akhirnya, Tari tertarik membuat blog perjalanan. Sejak saat itu, dimulailah petualangan seru Astari sebagai travel blogger.

Peran Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi
Astari asyik menulis di blog
 (Foto: Instagram Astari)

Tak disangka, Kebiasaan sederhana bersama ayah dan saudara-saudaranya dulu ternyata menjadi bekal hidup untuk Astari.

Jadi, mari mengajak anak, mengakrabkan anak dengan kegiatan membaca dan menulis sejak dini. Biarkan anak merasakan kegembiraan membaca buku sehingga kelak tergerak untuk menuliskan kisahnya sendiri.
Kegiatan Literasi di Sekolah

Pemerintah sudah mengajak anak-anak di sekolah membaca selama 15 menit sebelum memulai pelajaran. Bukunya tentu saja bukan buku pelajaran tetapi buku fiksi atau buku lain yang disukai anak.

Kelas Jurnalistik meresensi buku yang
sudah dibaca

Selain buku-buku bacaan dari perpustakaan, anak-anak diajak membuat pojok baca di setiap kelas. Buku yang tersedia berasal dari buku-buku milik pribadi anak dan rutin ditukar agar bukunya selalu baru.

Selain itu, sekolah bisa mengadakan kegiatan ekstrakurikuler yaitu kelas menulis dimana anak-anak belajar mengungkapkan apa yang dipikiran dan perasaannya lewat tulisan.


Asyik merangkai cerita di perpustakaan 

Salah satunya adalah SD. Hj. Isriati Moenadi Ungaran yang sudah memiliki kegiatan ekstrakurikuler Jurnalistik. Disana, anak-anak belajar menulis dengan ceria.

Kegiatan ini mendukung anak untuk mencintai kegiatan membaca buku dan menulis. Anak-anak jadi terbiasa dan lancar menulis. Hal ini menjadi modal dasar anak untuk masa depannya.

Kegiatan Literasi di Masyarakat

Saat ini, tak hanya keluarga, pemerintah dan sekolah juga yang bersemangat menggiatkan literasi. Anggota masyarakat pun kini juga banyak yang turun-tangan dalam mencerdaskan kehidupan generasi penerus.

Mas Yuli story' telling di  hadapan pendengar
(Foto: Instagram Yulianto)

Salah satunya adalah Mas Yulianto, pengurus Rumah Baca Bintang di Grobogan. Beliau berprofesi sebagai pendongeng dengan bonekanya. Ia aktif sekali menggiatkan literasi diantara anak-anak di Desa Sumberjosari, Karangrayung, Grobogan, Jateng.

Dengan bermodal koleksi bukunya yang belum banyak, Mas Yulianto memulai membangun Rumah Baca Bintang di rumahnya. Ia punya mimpi besar mencerdaskan anak bangsa. Ia rutin mengumpulkan buku-buku, mengajak anak-anak berkumpul di taman bacaan, membaca buku, mendongeng dan main berbagai permainan tradisional. Seru!

Kelas Menulis di DNA Club' Semarang
(Foto: Instagram Norma Keisya)

Ada juga Norma Keisya, penulis islami yang membuka  DNA Writing Club di Semarang. Ia mengajar anak-anak usia sekolah dasar untuk menyukai buku dan belajar menulis cerita. Kini, ia memiliki puluhan murid yang menghiasi dunia penerbitan Indonesia dengan karya buku mereka.

Perkenalkan juga Dewi Liez, penulis buku anak yang kreatif ini punya ide untuk memulai Moly. Apa sih Moly itu?

Moly atau mobil keliling adalah impian Mbak Liez yang akhirnya terwujud. Dengan mengeluarkan biaya dari kocek sendiri dan menggunakan mobil pribadinya, setiap akhir pekan Mbak Liez dan keluarganya berkeliling membawa perpustakaan kecilnya, mengunjungi tempat yang banyak anak-anak kecil!

Peran Keluarga dan Masyarakat Membudayakan Literasi
Kak Iffa aktivis Moly gemar membaca
  (Instagram Dewi Liez)

Wow, keren sekali ya, Mbak Liez! Padahal sudah capek bekerja full time malah setiap akhir pekan berkeliling juga menularkan virus membaca.

Iyaa, Moly berkeliling daerah sekitar Cikarang Selatan tempat Mbak Liez tinggal. Moly menebarkan kebahagiaan dengan membawakan anak-anak, remaja, dan para orangtua buku-buku seru yang bisa dibaca gratis. Kegiatan ini rutin dilakukan keluarga kecil mereka sejak November 2015 silam. Keren!

Keseruan membudayakan literasi juga dirasakan warga pemukiman padat Sunter Jaya di Jakarta. Daerah mereka yang rawan narkoba dan anak-anak yang kecanduan gawai membuat mereka ingin membuat perubahan. Apa yang harus dilakukan?


Mereka mendapat ide. Bagaimana jika mereka membuat taman bacaan yang menarik agar anak-anak suka membaca buku?

KBA Astra Sunter Jaya Jakarta
Asan pengunjung tetap perpustakaan Sunter Jaya

Atas inisiatif warga Kelurahan Sunter Jaya, mereka membangun Pojok Baca Tunas Harapan Bangsa dengan buku-buku yang menarik.  Tempatnya pun sederhana, menempati bagian rumah warga. Awalnya tentu tidak mudah mengajak anak-anak yang biasa nongkrong sesukanya untuk tertarik pada buku yang dipajang.

KBA Sunter Jaya Jakarta
Menarik sekali gerobak bukunya

Namun, Tati dan kawan-kawan berusaha menyodorkan buku yang kira-kira sesuai minat anak-anak usia sekolah dasar. Buku tentang olahraga, sains, ilmu alam, otomotif serta buku cerita bergambar paling menarik perhatian mereka. Kisah jagoan dan cerita fantasi adalah kegemaran anak-anak.

Pelan tapi pasti, mereka penasaran mengintip isi buku lalu tertarik membacanya. Tak hanya anak-anak, para ibu mereka juga akhirnya tertarik membaca buku.

Tak terkecuali, Asan seorang anak berkebutuhan khusus. Anak dengan down syndrome ini memiliki semangat belajar tinggi. Ia adalah pengunjung tetap dan paling rajin di Perpustakaan Sunter Jaya Berseri. Asan betah berlama-lama baca buku dan menulis. Keren banget, Asan!

Jadi, tak ada kata tak mungkin untuk bersama-sama membangun budaya literasi di masyarakat Indonesia. Belum terlambat untuk kita bergandengan tangan meningkatkan kecerdasan literasi generasi masa depan. Dimulai dari rumah kita sendiri dan lingkungan sekitar kita. Salam Literasi!

#LiterasiKeluarga
#SahabatKeluarga




49 comments:

  1. Menulis dan membaca memang harus dibiasakan dari kecil ya mbak dew. Aku dulu suka baca majalah Bobo ama cerita Nabi dan Rosul dibeliin Bapakku. Sampai besar suka beli buku di Gramedia dan toko buku lainnya, di rumah Garut dan Cibinong ada beberapa koleksi buku juga. Iya bener dengan membaca membuka jendela dunia, dan menambah kosakata untuk menulis di blog.

    ReplyDelete
  2. Nice article, mb Dew. Btw, soal peringkat itu, bisa kita telusur lagi metode pemeringkatan dan tahun pengambilan datanya, mb. Sepertinya sudah lama, dan mengarahnya ke PISA (Program International Student Assesment) ya, kalau tidak salah. Beberapa info kudapat, instrumennya mendasarkan pada kebiasaan ke perpustakaan, berapa artikel koran yang dibaca per hari, misalnya. So, tidak representatif sekali sebenarnya. Namun, bagus sih, buktinya hasil survei itu memicu pemerintah menyusun "gerakan" :) - GLS, GLK, dan GLM.

    ReplyDelete
  3. Terimakasih sudah mengingatkan, Mak Dew...
    akhir-akhir ini aku jarang banget baca buku, sesekali aja bacain cerita buat anak, belum rutin tiap hari. Bismillah.. harus semangat lagi nih. Sedih ya... Indonesia di peringkat bawah berarti aku juga punya andil. hiks

    ReplyDelete
  4. Emang seru ya menggiatkan literasi nih. Serasa berpetualang karena ada aja tantangannya. Yuk semangat!

    ReplyDelete
  5. Mantap banget nih usaha2nya untuk membuat masyarakat makin melek literasi. Sangat inspiratif

    ReplyDelete
  6. Mba, aku tertohok deh. Kecilku suka baca loh. Etapi sekarang jadi lbh suka baca gambar. Wkwkw. Parah kan.tapi kalo hoax tentu tidak dong

    ReplyDelete
  7. Banyak sekali pejuang literasi di Indonesia ya. mudah2an virus doyan membaca ini makin mewabah. Jadi semua orang di Indonesia suka membaca. Aq jd inget dulu sama ibu jarang banget dibeliin mainan, lebih sering dibeliin buku. Jadi mau nggak mau ya menghabiskan bukunya dibaca juga. Lama2 jadi ketagihan.

    ReplyDelete
  8. Senangnya membudayakan literasi bersama anak usia sekolah. Kalau untuk balita, jadi mesti kita yang dongengkan. Bukunya tentu yang lebih banyak gambarnya. Konon, industri bahan bacaan/literasi anak ini cukup menjanjikan--mungkin karena mulai munculnya kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi :D

    ReplyDelete
  9. Ya aku pun merasakan..dulu di.masa.kecil kami suka.membaca. Bp ibu sering membelikan buku..nah sekarang terasa sulit membuat generasi kedua di kelg kami suka membaca. Kalah sama game dan gadget hiks..

    ReplyDelete
  10. Setuju, membaca dan menulis itu satu paket. Keduanya adalah kegiatan literasi yg harus dipupuk sejak dari rumah sehingga ketika anak2 bertumbuh, mereka ttp gemar membaca dan menulis. Mupeng bgt sama kegiatan Astari, si Mbak Travel Blogger. Keren bs jalan2 dan memenangkan lomba blog gitu.

    ReplyDelete
  11. Jadi sedih begity inget banyaknya hoax yg dipercaya, kita emang masih gagap literasi huhuhu

    ReplyDelete
  12. Aku kurang telaten nih, kalah sama mba Lies yang nggak kenal lelah membuka perpustakaan untuk anak-anak. Padahal udah ada buku banyak, tapi kurang telaten merayu anak-anak di sekitar rumahku. Terlebih sekarang anak kecil udah sedikit, banyak yang udah kuliah atau kerja.

    ReplyDelete
  13. Itulah kenapa impianku setelah menikah nanti sederhana, kalaupun tidak ada ruang khusus untuk perpustakaan pribadi, setidaknya di kamar tamu ada rak buku 😍

    ReplyDelete
  14. Anak saya pelan-pelan mulai menyukai komik. Yah lumayan lah perkenalan yang alot. Tapi Alhamdulillah sampai sekarang sudah menamatkan banyak komik dan mulai hobby baca.

    ReplyDelete
  15. Iyaaa. Selalu takjub dengan antusias anak-anak dalam membaca. Semoga ini dapat dipertahankan sampai dewasa

    ReplyDelete
  16. Inspiratif sekali Dew... Setuju banget tuh membentuk budaya dimulai dari rumah. Budaya apapun itu.

    ReplyDelete
  17. memang harus dimulai dari kita dulu, saya meski kadang penat banget, tetap menyempatkan baca buku, meski pas mepet mereka mau tidur, aku di tengah antara kanga Athifah dan Dedek Nasya. Itu efektif banget, berasa masuk ke anak2

    ReplyDelete
  18. Memang tak mudah mbak menggiatkan minat membaca pada anak anak, contoh terdekat aja, di rumah. Karena anak anak tidak terbiasa. Saya juga sedang berusaha mendekatkan anak anak dengan buku. Jadi teladan dari orang dewasa memang penting. Seperti kata mbak Dedew, tak ada kata terlambat untuk memulai, bisa dari diri sendiri dulu, lagi keluarga dan masyarakat.

    ReplyDelete
  19. Bener banget ini Mba
    Ortu dan lingkungan masyarakat punya peran signifikan untuk menumbuhkan budaya literasi ya
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  20. Kalo anak sendiri gampang ngajarinya ya mbak, tinggal ajakin ke tokbuk aja. Apalagi mereka sejak kecil udah dikenalkan dengan buku. Jadi makin nambah usia biasanya mereka juga udah menentukan sendiri buku kesukaannya

    ReplyDelete
  21. Ikut mendukung nih kegiatan literasi di sekolah... jadi anak2 juga bisa paham dan pengetahuan literasinya bertambah. .

    ReplyDelete
  22. Kebiasaan gemar membaca memang diawali dari keluarga. Bagaimana mungkin menghasilkan anak2 yg gemar membaca klo orang tuanya aja malah gemar mainan gadget atau nonton tv melulu.

    ReplyDelete
  23. Keluarga emang pondasi utama yaa. Thifa suka aku tunjukkin blognya nailah, biar bisa mengikuti jejak nailah jadi penulis cilik. Aamiin.

    ReplyDelete
  24. Menanamkan kebiasaan membaca buku sejak kecil emang penting. Karena membentuk kebiasaan itu bukan upaya instan. Lebih bagus lagi kek mba Dewi gini, ada upaya pendukung.

    ReplyDelete
  25. Makasi mba dewi udah sharing dan mengingatkan kalo orangtua dan lingkungan sekitar menunjang budaya literasi ya

    ReplyDelete
  26. Anak pertama dan kedua masih rajin bacaain buku cerita, alhamdulillah sampai sekarang mereka gemar membaca.
    Pas anak ketiga, kok mulai malas bacain cerita ya

    ReplyDelete
  27. Aku punya cita-cita punya pepustakaan di rumah yang bisa digunakan untuk pribadi atau masyarakat sekitar supaya bisa membangun literasi dari rumah dan lingkungan sekitar hheee
    Aku tadi juga buka blognya kak Nai, keren nih Kak Nai
    Apalagi sama Mbak Liez juga nggak kalah keren uwuuhhh
    TFS yah Mbak ^_^

    ReplyDelete
  28. Intinya adanya literasi di keluarga mendukung banget ya Mb dew 👍

    ReplyDelete
  29. Kalau menurutku, masyarakat kita ini masih sangat memerlukan literasi digital. Apalagi yang suka kirim-kirim berita gak bener kudu dikasih tau juga.

    ReplyDelete
  30. Aku tuh sedih karena anakku tuh nggak terlalu sedoyan baca kayak aku. Tapi emang suka baca sih. Padahal dari dlu udah aku aktif galakkan membaca

    ReplyDelete
  31. Senengnya warga Sunter Jaya sudah ada taman bacaannya. Semoga warga makin minat untuk datang dan membaca, terutama anak-anak.

    Ngomong-ngomong saya jadi ingat sama teman lama di daerah Sunter Agung.

    Dan masalah literasi digital juga perlu kita sebarkan ke masyarakat luas biar mereka enggak sembarangan share berita yang enggak jelas kebenarannya.

    ReplyDelete
  32. Penting banget emang membudayakan literasi bahkan aku pernah baca literasi itu seharusnya dimulai sejak umur 0 bulan.

    ReplyDelete
  33. Paling utama dr lingkungan terkecil dulu nih
    Dari keluarga...
    Lingkungan yg membiasakan dan membudayakan Literasi tentu sangat menunjang generasi penerus kita utk mencintai dan menikmati nya...
    Yg paling penting budaya literasi smkin mudah dijangkau dg digitalisasi juga

    ReplyDelete
  34. Di keluargaku alhamdulillah udah biasa koleksi buku meski lumayan juga itu tabungan habisnya, eheheh. Trus lihat teman-teman anakku yang ga betah baca buku. Kalau aku kado buku saat ultah, bukunya berlalu gitu aja. Ortunya males bacain. So sad :(

    ReplyDelete
  35. Perjuangan keras nih di rumahku Mbak, anak-anak lebih suka mendengar dibandingkan membaca. Saya sudah upayakan untuk meletakan buku-buku di dekat tempat main mereka, tapi yang sering membuka dan membacanya baru si bungsu yang masih berusia 4 tahun

    ReplyDelete
  36. Aku selalu suka lihat anak2 yang hobi baca. Niatku ya mau nularin itu juga sama ponakan. Kuajak ke perpus tahan cuma bentar. Memang kudu dimulai dari kita yg ngasih lihat hobi baca. Aku bacanya pas enggak dilihat

    ReplyDelete
  37. Bener bangt ya mba,, anak2 skrang minat bacanya kurang,, nah Kita sbg ortu hrs aware dengan mnerapkan nya di rumah,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena anak2 sekarang lebih banyak terpapar gadget ya jadinya kurang berminat untuk membaca buku.

      Delete
  38. Setuju sih kalo bukan minat baca yang rendah, tetapi bacanya pada berpindah ke gadget, tidak lagi via buku

    ReplyDelete
  39. Sekarang saingannya sama gadget nih. Walopun udah naruh buku di mana-mana, anak tetap aja larinya ke gadget.

    ReplyDelete
  40. Setuju sangay mba bahwa kecintaan terhadap buku dan gemar membaca jarus dibiasakan sejak dini.. menulis dan membaca hal yang tidak dapat dipisahkan

    ReplyDelete
  41. Sedih banget ya Mbak angka dan peringkat literasi di negara kita rendah banget. Tapi sepertinya sekarang terjasi kemunduran literasi global ada di semua negara kayaknya.

    ReplyDelete
  42. Salah satu metode parenting yang saya terapkan di rumah adalah kecerdasan literasi dengan mewajibkan bacaan ke anak setiap hari karena dampaknya sangat besar di kemudian hari

    ReplyDelete
  43. Keren sekali ini gerakan literasinya, semoga ke depan , Lampung juga punya sekolah menulis untuk anak-anak agar makin banyak generasi suka menulis ya.

    ReplyDelete
  44. Aku sejak belum menikah hingga kini ada rak buku. Anak-anak tuh perlu banget kenal buku, apalagi era digital menggerus jaman. Jangan sampai mereka lupa meraba kertas

    ReplyDelete
  45. Bener banget sih, kami sering mengelar lapak baca di taman kota sebenarnya minat masyarakat baca terutama anak2 itu cukup tinggi, hanya kadang ga ketiadaan buku juga lapak2 baca saja, yg terkesan minat baca kita rendah.

    ReplyDelete
  46. Tantangan membaca zaman now itu konten gadget. Namun selama orang tua masih membacakan buku untuk anaknya, kenangan indah membaca akan tetap ada, semoga menjadi penarik minat anak untuk terus membaca,

    ReplyDelete
  47. Membaca jadi salah satu goal yg harus dibiasakan ke anak2 sejak dini ya Mba Dedew, dan yg paling bagus emang dimulai dari rumah dulu

    ReplyDelete
  48. Bagus banget artikelnya. Memang, kebiasaan membaca harus dipupuk dari kecil. Nggak usah untuk yang membaca sebagai hiburan, orang kantor yang wajib baca SOP dan Perjanjian Kerja saja kadang males membacanya. Itu bacaan wajib yang mempengaruhi kenyamanan dan keselamatan kerja, lho. Kalau bacaan yang wajib dan bisa menentukan hidup mati saja diabaikan, lha gimana membaca sebagai hobi?

    ReplyDelete

Recent

recentposts