Monday, May 16, 2016

Menyesap Nikmatnya Kopi dan Kenangan di Waroeng Kopi AKE, Belitung

Dear Temans,

Hari ketiga di Belitung, bodi rasanya remuk-redam kelelahan, tapi tidak menghalangi kami mengeksplorasi kota Tanjung Pandan lebih dalam.


Pagi buta, Mbak Andrie yang berasal dari Bandung mengajak aku dan Tari berburu sunrise. Apalagi, hotel kami menginap tak jauh dari Pantai Tanjung Pendam.

Pantai ini terletak di tengah kota Tanjung Pandan dan kerap dijadikan tempat berwisata dan berkegiatan warga kota. 

Pantainya tidak terlalu indah jika dibandingkan dengan pantai lain di Belitung tapi cukup ramai dikunjungi lho. Mungkin karena letaknya yang strategis ya. Beberapa orang sibuk jogging dan bersepeda pagi itu.

Sayangnya, ketika kami masuk kawasan pantai, sunrise tak terlihat dari pantai,  huhu. Akhirnya, kami bertiga pun bak pengejar matahari hehe. Berjalan kaki mencari sunrise.


Pagi di Tanjung Pandan terasa lengang.
Kami sempat lewat di sebuah rumah sakit yang tidak dipakai lagi. Dan konon menjadi sarang hantu, halah. Bukannya melipir, malah Tari dan Mbak Andrie sibuk memotret bangunan kuno yang terasa spooky

Udaranya segar, cuaca cerah dan perasaan nyaman dan damai. Kesibukan suatu kota mulai terlihat. Beberapa kali kami berhenti untuk memotret bangunan tua, peninggalan zaman Belanda yang masih terawat. Tak jarang dijadikan kantor seperti kantor tentara.

Tak terasa,  kami berjalan hingga ke pusat kota, tempat pawai marching band yang menghebohkan kemarin. Tepat di depan tugu batu Satam, lambang Belitung, ada sebuah ruko dengan bentuk khas dan unik. 

Sebuah warung kopi menarik perhatian kami. Apalagi, mulai terasa pegal betis berjalan kaki menyusuri kota.


Wkwkw, Kebayang nanti balik ke hotel kudu berjalan kaki lagi karena di Tanjung Pandan tak ada angkutan umum seperti angkot atau bus. Taksi pun tak seberapa banyak, konon hanya ada 4 mobil. Hehe.

Kami pun menumpang duduk di bawah payung besar dengan kursi besi.
Ada sebuah tugu perjuangan dengan nama-nama pahlawan Belitong bertuliskan disana. Di depan warung kopi, berkumpul sebuah grup yang tertawa dan bercanda sambil menikmati segelas kopi atau teh di beranda warung kopi Ake.

Akhirnya tercapai juga cita-cita mencoba nongkrong di sebuah warung kopi di Belitong. Kemarin, kami mengunjungi Desa Manggar yang terkenal dengan negeri 1001 kopi.  Betul, sepanjang jalan di desa itu, isinya warung kopi!

Sayangnya nggak sempat mampir di desa yang kerap diceritakan dalam cerita novel Laskar Pelangi Pakcik Andrea Hirata. Nggak sempat ngopi cantik. 


Dahulu, saat tambang timah masih berjaya, kebanyakan pengunjung warung kopi di Manggar adalah buruh tambang. Kini kebanyakan pengunjungnya adalah penduduk lokal dan wisatawan hehe.

Ternyata yang kami kunjungi hari ini adalah Waroeng Kopi AKE yang terletak di kavling Bahagia Kota Tanjung Pandan.

Waroeng ini sudah berdiri sejak 105 tahun lalu. Tepatnya tahun 1911. Menurut Willy Martem pemilik generasi keempat warkop, warungnya ini yang tertua di Kota Tanjung Pandan. 

Kakek buyutnya,  Abok adalah salah satu dari ribuan orang yang didatangkan Belanda dari Tiongkok untuk menjadi buruh tambang timah. Tapi Abok lebih memilih membuka warung kopi.


Awalnya, Abok membuka warung di depan kantor tentara Belanda di seberang kavling.  Lalu, pindah tempat ke kawasan yang disebut Kavling Bahagia. 

Nama AKE sendiri, diambil dari nama putra Abok, AKE, kakek Willy. Setelah Ah Kiong ayahnya pensiun, Willy pun meneruskan usaha turun-temurun ini. 

Mengapa disebut kavling bahagia?  Dahulu, tempat ini adalah kawasan hiburan yang lengkap mulai dari berbagai kedai makanan, warung kopi hingga tempat permainan bilyar. Jadi, pengunjung akan bahagia sepulang dari sana,  hehe.

Warkop AKE kini berlokasi di sebuah ruko di kawasan strategis. Ruangannya tidak terlalu luas tapi ramai dikunjungi para penduduk kota juga wisatawan yang berkunjung ke Belitung.



Di depan ruko, diletakkan meja dan kursi terbuat dari batu. Menurut Koh Willy, kursi depan warung ini sering dijadikan tempat para pejabat atau tokoh penting Belitong untuk mendiskusikan banyak hal.

Saat itu,  yang melayani pengunjung adalah Ibunda Koh Willy. Ketika akan kami wawancarai, ia memanggil putranya.

Suasana warung kopi nampak nyaman dan bersih. Beberapa foto berpigura dipajang di dinding. Salah satunya foto keluarga besar koko di depan warung kopi sebelum direnovasi, sederhana sekali.

Dahulu, waroeng kopi ini berdinding kayu dan beratapkan seng. Lantai bawah untuk berjualan kopi dan atasnya untuk tempat tinggal keluarga Abok. Terbayang ya,  dahulu kala Abok melayani pelanggan yang terdiri meneer dan tentara Belanda. Keluar masuk warung di masa lalu. 


Barang-barang yang digunakan kakek buyutnya dahulu pun masih dipakai Willy berjualan. Seperti ceret untuk merebus air, usianya sudah 100 tahun lebih. Guci tempat air yang nampak vintage juga merupakan perabotan peninggalan kakek buyutnya. 

Bedanya, kini Willy menggunakan kompor gas untuk merebus air, bukan tungku berbahan bakar kayu lagi seperti kakek buyutnya.

Menurut koko Willy, ia memesan kopi Robusta dari Palembang, maklum Belitong bukan daerah penghasil kopi.  Ia menyediakan minuman seperti kopi O,  kopi susu dan teh. Yang paling laris tentu saja kopi O atau kopi hitam.

Untuk teman minum, ada berbagai gorengan. Juga semacam nasi lemak yang dibungkus daun. Akk, jadi ngileer.

Di depan warung, nongkrong tukang jualan makanan dengan sepeda motor. Kami memilih berbagai jenis kue tradisional yang dijajakan. Indah sekali yaa hidup ini!

Cara meracik kopi ala Koko Willy terlihat sama saja dengan warung kopi lain di Belitung. Bubuk kopi robusta diletakkan di saringan yang kata Bang Romi pemandu kami, seperti kaus kaki. Ih, geleuh atuh minum kopi hasil perasan kaus kaki kikikikk..



Setelah itu, bubuk kopi diguyur dengan air mendidih dari ceret berusia ratusan tahun. Kalau kopi susu, dimasukkan susu kental manis terlebih dahulu.

Tapi, racikan warkop AKE memang istimewa.  Cita rasa tetap sama dengan racikan kakek buyutnya 105 tahun lalu. Buktinya, pengunjung berduyun-duyun kesana setiap hari. Setiap gelas kopi pun dibanderol dengan harga sama,  Rp. 8.000 saja. 

Bagaimanapun larisnya warung mereka, keturunan Abok  tak ingin membuka cabang warungnya dimanapun.


Nongkrong di warung kopi,  seperti yang diceritakan oleh Pak Cik Andrea di novelnya, memang merupakan kebudayaan orang Belitung.  Tak jauh beda dengan orang Padang atau Aceh.

Di warung kopi,  mereka bisa betah berjam-jam nongkrong membicarakan dan berdebat tentang berbagai hal. Mulai dari masalah politik hingga gosip artis #guebanget ini siih.

Waroeng kopi ini buka setiap hati mulai pukul 06.00-00.00. Setiap hari rata-rata menjual 100 gelas kopi.  Wow.

Tak lama,  pesanan kopi susu kami tiba. Rasanya tak terlupakan, bisa menikmati pagi dengan segelas kopi susu dan pemandangan kota yang mulai sibuk. Mengenang masa silam di Belitung. 



13 comments:

  1. Yang gw selalu inget dari belitung cuman Suto Makjanah.
    Kopi ake mmg terkenal tapi ngak masuk dalam daftar yg mesti di kunjungi lagi hahaha

    ReplyDelete
  2. Malam kedua saya ngopi di situ. Tapi sayang ga sempat ngobrol dengan pemiliknya. Lain kali mesti ngobrol deh..

    ReplyDelete
  3. Salah satu yang membuat Belitung terkenal adalah keberadaan kedai kopi yang banyak dijumpai di Belitung.. Konon kopi di sana punya citarasa yang khas dan berbeda dengan tempat lain.. Aku belum pernah ke sana dan pengen banget ke Belitung..

    ReplyDelete
  4. Kikkikkikkk, ikutan berasa gimana gitu, saringan kopi pakai kaos kaki. Pegel juga ya gak ada angkot, yuk invest angkot di Belitung, hahaha

    ReplyDelete
  5. Aaakhhh, kapan ya bisa ke Belitung? Pengen ngopi di Kopi ake :D

    ReplyDelete
  6. ceret yang item berderet itu keren

    ReplyDelete
  7. Itu ceret sudah berusia 100 tahun lebih..., elok benerrr... :)

    ReplyDelete
  8. pasti asik dan seru yaa mbak..
    btw itu ceret yang unik yang usianya ratusan tahun itu mungkin akan lebih unik lagi kalau masak airnya pakai pawon yang berbahan bakar kayu yaa, biar rasa kopinya makin maknyus, hehe..

    ReplyDelete
  9. Aku udah dua kali ke sini dan enggak pernah bosen. Apalagi ibunda Willy sangat ramah kepada pengunjung. Walau tak jadi ke Manggar, Kopi Ake udah sah mewakili rasa penasaran sama kopi Belitong yaa :)

    ReplyDelete
  10. Tekonya dah 105 tahun? duh duh duh makanya nampak jadul amat. jadi ingat tekonya mbah di desa.

    ReplyDelete
  11. Pagi itu Lala kuajakin nyusul ke AKE, tapi dia milih main ayunan di taman Pantai Tanjung Pendam.. yowes emaknya ngalah :D
    Padahal udah ngilerr ngeliat foto kopi yang dikirim Taro di grup loooh...

    ReplyDelete
  12. Kedai kopi, hhm cocok nih buat suami. Kalo aku nyomot gorengannya aja deh :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...