Sunday, December 27, 2015

Rumah Makan Inggil di Malang, Restoran Berkonsep Museum :)

Dear Temans,

Met liburan ya!
Kali ini dakuw mau meneruskan cerita liburan pas ke Malang, hehe. Baru sempat menuliskannya. 
Dakuw ke Malang berempat bareng my sister Taro, dan duo krucils. Mau liburan hore dan murmer. Kalau pergi pas musim liburan, kebayang deh berdesak-desakan di tempat wisata, mana semuanya seba mahal, mulai dari tiket kereta hingga hotel. Nggak kuat kantung Mama Berbi :D

Rumah Makan Inggil Malang
Rumah Makan Inggil berkonsep museum
Waktu ke Malang, kami sudah mengincar Museum Malang Tempo Doeloe, yup karena anak-anak dakuw kayak Abahnya, Bapakku suka banget dengan museum. Dan ternyata, Museum ini bersebelahan dengan Rumah Makan Inggil atau sering disebut Inggil Resto. Bahkan, keduanya berada dalam satu yayasan yaitu Yayasan Inggil.

Tak heran, kalau Rumah Makan Inggil juga mirip museum.
Pengunjung dimanjakan berbagai barang antik dan vintage. Hanya saja, Mamaku pasti nggak mau ke rumah makan ini. Karena beliau paling nggak suka rumah makan yang vintage hehe. Jorok, katanya. Padahal, rumah makan ini keren sekali, lho. 

Rumah Makan Inggil Malang
suasana di dalam ruangan utama rumah makan Inggil Malang
Begitu masuk restonya, kita serasa terlempar ke masa lalu. Berbagai barang antik dan tradisional dipajang dengan padu dan harmonis. Jadi, persis seperti museum. Konon, kerap disebut Inggil Museum Resto. Suasananya agak remang-remang persis museum. 

Kita bisa memilih makan di beberapa ruangan. Ada ruangan yang penuh koleksi kaset jadul, adapula ruangan makan besar dan kita bisa memilih duduk lesehan atau di kursi. Ada seperangkat gamelan dan wayang di ujung ruang makan.Katanya, sering ada pertunjukan lho disini. Misalnya pertunjukan wayang, gamelan, ketoprak, keroncong hingga dangdutan. Di halaman Rumah Makan Inggil terdapat seperangkat wayang kulit. Aih, sayang sedang nggak ada pertunjukan seni ya pas kami main kesana!

Rumah Makan Inggil Malang
koleksi topeng tradisional
Agak lama kami memilih makanan yang dibawakan pelayan restoran. Maklum, kami terkesima dengan suasana rumah makan yang cozy. Menu makanan yang disajikan di rumah makan Inggil ini adalah menu tradisional. Banyak pilihan menu misalnya untuk ikan segar ada pilihan ikan gurami, kakap merah, kakap putih dan kerapu. Kita bisa memilih disajikan dengan cara dibakar, digoreng atau bumbu asam manis. Harganya sekitar 11.000-13.000 per ons tergantung jenis ikannya.

Rumah Makan Inggil Malang
mau pesan apa bu?
Selain ikan, bisa memilih sajian lain seperti lele, udang, dorang, dan cumi-cumi. Bisa digoreng, bakar atau asam manis dan goreng tepung. Harganya beragam mulai dari Rp.14.000 untuk lele per ons hingga Rp.28.000 untuk cumi-cumi. Yang tidak suka ikan, ada pilihan ayam goreng, ayam bakar dan ayam asam manis juga kok.

Rumah Makan Inggil Malang
di ruangan ini tersimpan banyak benda bersejarah kota dan kabupaten Malang
Untuk menu sop dan sayuran, ada rawon buntut, sop buntut, sayur asam, berbagai jenis cah dan tumisan sayuran, hingga urap dan lalapan. Untuk semangkuk sop buntut harganya Rp.50.000 dan rawon buntut Rp.55.000.

Bagaimana dengan lauk teman makan nasi? Standar sih, semacam tahu dan tempe, pepes tongkol dan pepes tahu. Ada mendol juga. Apa ya itu? Mari kita pesan yaa :) untuk sambal ada berbagai pilihan seperti sambal terasi, sambal tomat, sambal pencit, sambal terong, sambal bawang dan sambal apel. Harganya 5000-7500.

Rumah Makan Inggil Malang
nasi jagung yummii

Rumah Makan Inggil Malang
ikan gurame bakar
Minumannya? Berbagai minuman tradisional bisa dipesan seperti wedang jahe, jamu kebon agung, wedang ronde, es dawet hingga es sinom alias es beras kencur dengan harga Rp.8500 segelas. 

Rumah Makan Inggil Malang
guilty pleasure hihihi
Kami memesan ikan gurame bakar, ayam bakar, tempe dan tahu, juga nasi jagung. Tak lupa, mendol dan tahu petis. Minumannya es dawet, es teh dan es sinom, untuk menyegarkan badan setelah berpanas-panasan menyusuri Jalan Gajah Mada No. 4 Klojen di Malang demi mencari rumah makan ini. 
Rumah Makan Inggil Malang
tahan godaannya?

Rumah Makan Inggil Malang
tahu petis yang menggoda imam eh iman
Rumah Makan Inggil Malang
ini bukan tempe goreng, ini mendol
Bahkan, Museum Malang Tempo Doeloe dibangun bermula dari rumah makan ini lho. Ide mendirikan museum dicetuskan oleh Pak Dwi Cahyono di tahun 1997. Ia ingin mengemas sejarah Kota Malang menjadi tujuan wisata yang menyenangkan. Gagasan ini dimulai ketika Rumah Makan Inggil, restoran bernuansa vintage dan tempo doeloe dibangun. Resto Inggil ini kemudian terletak bersebelahan dengan Museum Malang Tempo Doeloe di Jalan Gajah Mada. 

Rumah Makan Inggil Malang
jadi kayak toko kaset atau ruang musik radio yaaa
Konon, pemilik rumah makan ini adalah anak walikota Malang dulu. Koleksi barang antiknya mengagumkan ya, dan ia tak pelit berbagi koleksinya ini dengan memajangnya di rumah makannya. Pengunjung yang mampir di rumah makan ini tak hanya kenyang menikmati sajian makanan, tapi juga menambah ilmu pengetahuan tentang masa silam. Sekaligus, mendapatkan foto-foto keren yang Instagram-able, hihihi.

Rumah Makan Inggil Malang
Hello, is it me you looking for?
Sambil menanti pesanan, kami melihat-lihat sekelling rumah makan. Berbagai pajang vintage seperti koleksi perangko jadul, foto kota Malang tempo dulu, terus berbagai poster kuno, bahkan poster merek roko zaman dulu. Hm, terus ada koleksi radio dan telepon kuno, setrika arang, mesin tik dan mesin jahit Singer jadul! Bahkan ada pemutar piringan hitam. Aih, penasaran gimana ya suaranya? Kalau di rumah makan Noeris Cafe di Semarang, radionya bahkan masih berfungsi lho untuk memutar lagu-lagu terbaru dari radio, hehe.

Rumah Makan Inggil Malang
patung penari topeng hehe kayak beneran bo
Menyenangkan sekali melihat koleksinya. Yang antik, ada alat pengeriting rambut dari tahun 1950. Hihihi nggak kebayang deh gimana cara pakainya coba? Jadi penasaran. Oh iya, walau kita berada dalam rumah makan bernuansa vintage dan mirip museum. Dan walau kita merasa seperti berada di masa lalu, tapi rumah makan Inggil ini tetap kekinian lhoo, dengan menyediakan fasilitas WIFI yang kencang hehe. 

Rumah Makan Inggil Malang
alat pengeriting rambut dari tahun 1950
Yang menarik adalah koleksi kaset jadulnya, banyaaak! Masih ada yang bisa diputar nggak ya? Kasetnya pun berasal dari berbagai era, dari 70-an seperti kaset Chica koeswoyo hingga tahun 90-an seperti lagu Kahitna, hehe komplet bo. Ya ampuun, keren bangeeet! 

Rumah Makan Inggil Malang
konter kasir di Rumah Makan Inggil Malang
Setelah puas memotret berbagai pernak-pernik di rumah makan, kami pun mulai menyantap hidangan. Wah, enak-enak juga lho. Terutama ayam bakarnya ang empuk. Akhirnya dkauw kesampaian mencicipi tahu petis hihi dari Semarang pengen banget makan tahu petis. Halah. 

Rumah Makan Inggil Malang
pojok yang menceritakan asal-usul inggil resto dan museum malang tmepo doleoe
Sayangnya, saat itu tidak ada pertunjukan. Padahal banyak orang bule makan siang disana. Biasanya kalau malam ada musik keroncong live bahkan tari-tarian seperti Tari Topeng yang keren. Hiks, mau doong..Alhamdulillah, kami datang di siang hari, saat pengunjung rumah makan tidak padat. 

Kalau baca-baca pengalaman blogger yang makan disana, ada yang sampai masuk daftar tunggu lho saking padatnya. Hadeeh, malas banget kan ya, mau makan saja pakai acara menunggu antrian? Nggak heran sih, karena rumah makan ini konon sudah terkenal dimana-mana dan banyak dikunjungi wisatawan asing. 

Rumah Makan Inggil Malang
toko oleh-oleh di halaman rumah makan Inggil
Kami jadi betah disana karena suasana lesehan yang terbuat dari bahan bambu. jadi pengen bobok siang dulu hahaha. Apa daya, anak-anak menarik-narik aku biar segera pindah tongkrongan ke museum Malang Tempo Doeloe di sebelah rumah makan ini. Oh iya, kalau kalian mau mencari oleh-oleh khas Malang, di depan rumah makan ini juga ada toko pernak-pernik dan oleh-oleh khas Malang lho. Lumayan besar juga. Rumah makan Inggil buka pukul 10.00 pagi hinggal pukul 22.00 setiap hari. Jadi, kalau ke Malang jangan lupa mampir yaa...

Photo Courtesy of Lestari
www.jejaksematawayang.com 



14 comments:

  1. Wih, ke sini aja sama dengan refreshing. :D Banyak barang zaman dulu. Kapan main ke Malang Selatan, Mbak?

    ReplyDelete
  2. Keren banget konsepnya jarang ada tempat makan begini ya

    ReplyDelete
  3. padahal vintage belum tentu jorok ya mbak :) berarti pemilik warungnya harus bisa megubah image ini nih

    ReplyDelete
  4. Aku malah belum nulis sama sekali :D *tutup muka pakai wajan*

    Aku suka sama konsep restonya, mendidik bangeettt

    ReplyDelete
  5. Keren desainnya ya. yg lucuk itu jejeran kasetnya. Jadi ingat jaman EsDe suka narik Mak ke toko kaset bunta nyari kaset Abang Tukag Bakso. Hehee..

    ReplyDelete
  6. koleksinyaaaaaa.. ruaaarrr biasaaaa.... aku naksir dengan koleksi kasetnya.. juga koleksi topengnya.. duh.. itu bisa jadi background foto cantik semua deh

    ReplyDelete
  7. Jadi selain perut kenyang, makan sajiannya, bisa belajar tentang masa lalu ya, eh masa lampau.

    ReplyDelete
  8. Wah bu dewi..inoq bgt rumah makannya..itu kaset kuno banyak bgt ngolekainya dl gimana ya..

    ReplyDelete
  9. liburan gini kudu siapin anggran cadangan yang biasanya sering jebol :)

    ReplyDelete
  10. Vintage dari depan sampai belakang yo mbak, itu konter kasirnya asik banget, uniiik, heheheee

    ReplyDelete
  11. Saya merantau di Malang, tapi belum pernah ke sini hihii
    btw patung penarinya kayak orang beneran lhoo

    ReplyDelete
  12. Wah, kerena makan sekaligus berwisata. Sering ke malang tapi belum kesini, pingin cobain nasi jagungnya sama sambelnya, huuhu lapaarrrrr.

    Tapi kok takut ya sama topeng, pikiranku selalu keduni lain klo lihat topeng *penakut

    ReplyDelete
  13. Keren banget tempatnya. Vintage kalau bersih aku suka. Skrg byk juga sih yg sok2 vintage tp kursi karatan jg dipajang. Kalau yg kyk gitu aku se-gank sama si mamah deh, gak suka heheee

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...