Wednesday, June 10, 2015

Muthia: Jadi Editor Nggak Sekedar Memelototi Naskah :)

Dear Temans,

Haloo..jumpa lagi, hehe...
Rasanya sudah lama ya nggak posting untuk rubrik Kenal Lebih Dekat yaa di blog ini.
Oke, malam ini aku mau kenalin salah seorang perempuan kece dan ahli di bidangnya.
Siapakah dia? Yuk, yuk kenalan :)

kerja sambil bersantai hehe
Perempuan berdarah Jawa ini namanya Muthia Esfandiari.
Bulan Mei lalu, dakuw kopdar dengan Mbak Muthia lhoo di Ungaran.
Mungkin, kamu nggak asing dengan namanya. Yup, 
Muthia adalah seorang penulis buku self defense for women dan trainer self defense lhoo. 
Jangan macam-macam dengan beliau, nanti diciaat..#hihihi.

Saat itu, Muthia sedang tur penerbit di Yogya-Semarang dan kami janjian bertemu di Semarang.
Huaa ternyata aku nggak bisa turun gunung, akhirnya beliau yang samperin aku di Ungaran.
Sempat pakai acara nyasar lagi! Maafkan aku yaa..

Roadshow Penerbit Loveable ke radio

Gadis kelahiran 23 Februari ini, kini menjabat sebagai Manajer Promosi dan Redaktur Pelaksana PT. Ufuk Publishing House lhoo. Ia memegang tiga penerbit ey, kebayang nggak mumetnya? Hihi, ternyata, Mbak Muthia menikmatinya. Penerbit yang Muthia ajak main tiap hari adalah Penerbit Loveable, Penerbit Fantasious dan Penerbit Phoenix. 

Ternyata, penghobi travelling dan bikin miniatur ini nggak sengaja terjun di dunia perbukuan. 
Saat hampir lulus kuliah, ia coba-coba mendaftar jadi editor sebuah majalah indie. Lho, kok seru ya? Ia pun jatuh cinta dan betah berendam di dunia perbukuan #eh. 

Banyak yang menyangka, pekerjaan editor itu melulu mengedit naskah penulis biar lebih cakep.
Oww, oww, salah saudara-saudara! Pekerjaan editor ternyata kompleks lho. Memang sih, mengedit naskah itu yang utama.

Menjadi editor ada tingkatannya. Ada yang memang bekerja khusus mengedit naskah, ada pula yang bertugas mencari naskah. Dan ada yang menjadi super editor, semua dikerjakan oleh dia hihihi. mulai dari hulu ke hilir, semua pekerjaan redaksi dikerjakan hosh..hosh..mulai dari mencari tema naskah, hingga mengontrol perkembangan buku di toko buku. Ditambah bikin teh dan kopi juga, mungkin hehe. Jreeng!

Jadi penasaran, apakah menjadi editor harus punya pendidikan khusus?

"Hm, di beberapa universitas ada jurusan editing. Adapula workshop untuk mengajarkan skill dasar menjadi editor. Tapi, kebanyakan otodidak, belajar sendiri awalnya. Lalu meningkatkan kemampuan lewat berbagai sarana," 

Hadiah dari Muthia, asyiiik...nuhun pisan

Kalau jam kerjanya? Apakah nine to five, layaknya jadwal kerja orang kantoran?

Oww, oww, biarpun bekerja di kantor, ternyata jam kerja editor itu bisa 24 jam sehari, 7 hari seminggu ya! Gyaaa! *mendadak pening. 

"Haha, Kalah ya satpam kompleks jam kerjanya. Terutama buat editor yang kerja di kantor, karena dunia buku dinamis, selalu berkembang, jadi yah harus selalu siap mengikuti perkembangan di luar sana," 

Suka dukanya menurut Muthia, banyak.
Sukanya, kalau hobi membaca ya sama saja seperti melakukan hobinya, terus dibayar, hehe. Sedangkan dukanya ya kadang nggak sempat pacaran *uhuk, dan kalau lagi deadline, suka kebawa mimpi buruk, hihi *toss.

Jadi penasaran deh dengan Penerbit Loveable, ceritakan doong...

Penerbit Loveable ini penerbit buku yang fokus di genre romance, komedi, psikopop yang tema-temanya kamu banget deh ;) artinya tema yang diangkat seputar kehidupan kita sehari-hari. Apa yang berbeda? Loveable berusaha menjadi penerbit yang bisa menjadi temanmu dalam segala suasana.

Walaupun penerbit anyar, Loveable sudah punya beberapa buku super best seller lho diantaranya If You Know What Happened in MCI (Widya Arifianti) dan Le Me Forever Alone (Baro Indra). Keduanya ditulis oleh admin dan kreator salah satu komunitas Meme Comic yang happening bingits itu. Aku doong, dapat oleh-oleh kedua buku kocak itu, plus seuntai kalung couple ala Korea, senaaang! Hihi..*pencinta gretongan. 

Jadi, buat kamu yang punya naskah yang kira-kira bakal digandrungi pembaca tercintah di luar sana, ayo buruan kirim ke Loveable. Loveable nggak mengkhususkan satu tema utama. Yang penting bisa disukai pembaca. Jadi nggak hanya menerima non fiksi atau novel remaja saja, misalnya.

 Oh iyaaa, Promosi mereka keren lhoo. Twitter dan sosmed Loveable aktif banget. Mereka sering mengadakan GA, kuis, berbagai diskon dan hadiah menarik untuk pembelian buku, dan miminnya aktif banget berinteraksi dengan followernya.

Menurut Muthia, Ada beberapa tahap dalam promosi Loveable, sejak buku belum jadi apa-apa sampai sudah duduk manis di display toko buku. Rangkaian ini perlu dijaga, agar informasi tentang buku tersebut selalu sampai ke pembaca maupun ke calon pembaca. Loveable juga melibatkan pembaca dalam proses ini, baik yang terlibat dalam komunitas maupun pembaca individual. Nah, keren kan? :) 

Di Loveable, editor berperan serta dalam hunting naskah, hunting penulis dan promosi, hihi editor super yaa. Menurut Muthia, editor adalah orang yang paling tahu tentang buku dan penulis yang ditanganinya. Editor juga terlibat dalam hunting naskah dan hunting penulis. Semua tema yang dilempar penerbit, biasanya sudah melalui diskusi redaksi-promosi dan dites di beberapa komunitas. Biar komplet diskusinya. 
 
Nah, menurut Muthia, penulis seperti apa ya yang editor sukai?
"Tentunya yang bisa dan mau berdiskusi dengan penerbit, karena buku itu menurutku hasil kerja bakti, bukan hasil kerja individu,"

Terakhir, Apa pesan utuk teman-teman yang ingin jadi editor? Kemampuan apa yang perlu diasah? 

"Yang utama, mesti sabar hehe pekerjaan editor itu butuh ketelitian, kesabaran, kedisiplinan, kerja keras, tapi yang pasti super asyik kok. Banyak-banyak kepo hal-hal di sekitar dan info-info buku juga penting dimiliki oleh semua editor. Dan yang pasti, enjoy it!"

Wow, banyak juga ya pertanyaanku. Ini wawancara atau interogasi sih? 
Hihi, biar kamu nggak penasaran lagi gimana pekerjaan editor dan seluk-beluknya, makanya dakuw colek-colek Muthia. Oh iya, seperti yang daku ceritakan diatas, lulusan Sastra Asia Barat UI ini juga seorang self defense trainer for women. Ia mengajarkan teknik perlindungan diri untuk para perempuan agar terhindar dari pelecehan atau kejahatan. Wow, keren ya.

Terima kasih Muthia, sudah berbagi pengalaman dan cerita di blog dakuw. 
Inshaa Allah bermanfaat banget untuk teman-teman pembaca. Ingin tahu lebih banyak? Follow saja Twitternya ya @muthiaesfand. Sukses ya, Muthia!

Photo Courtesy of Muthia Esfandiari










30 comments:

  1. Wah, saya juga pengen jadi editorrr... tapiiii tulisan masih banyak yang typo :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayoo, dipelajari mak...kalau udah oke, bisa melamar editor freelance penerbit, kayak teman-temanku, banyak dibutuhin editor buku anak kayak KKPK :)

      Delete
  2. Wow jam kerja editor luar biasa banget....kynya yg jadi editor kudu mental baja semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. bangeeet....dakuw sering lho chat dengan editorku jam 8 malam dan dese masih di kantor ><"

      Delete
  3. Ternyata editor dan penulis itu sama stresnya yah Mbak Dew, hihihi

    ReplyDelete
  4. Wah jadi editor itu ga gampang yaa

    ReplyDelete
  5. ternyata editor seperti itu...memang semua pekerjaan itu ada enaknya dan ada nggak enaknya..pokok e kita tetap smile dan ikhlas....

    ReplyDelete
  6. Iya pengalaman nangani naskah di Mozaik, jadi editor itu jauh lebih mumet dari penulis, terutama kalau nemuin banyak typo dan tulisan tidak sesuai EYD. mending nulis aja deh aku :P

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. Typo maksimal maksudku boleh nih kirim naskah ke penerbit ini :D

      Delete
  8. Wow! Pekerjaan editor kompleks banget ya... Aku pernah 'ngerasain' dikit siih.. Waktu nanganin buku-buku Love Journey, aku ama Fatah bagi tugas buat editing. Ternyata puyeng juga... :D Salut buat para editor!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, aku masih lebih milih nulis daripada ngedit, sekarang sih banyak teman yang jadi freelance editor sambil nulis buku juga...

      Delete
  9. tak semudah yg dibayangkan ya jadi editor, .kudu lebih teliti dan njelimet mungkin, hehehe

    ReplyDelete
  10. Saya sudah baca buku MCI yang dieditorinya. Keren! Semoga sukses.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MCI yang editorin bukan muthia ris, tapi kahfi...buat yang kocak2, kahfi jagonya dah...

      Delete
  11. tidak mudah ya jadi editor....kalau editor sama penulis lebih sulit mana ya...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tergantung passionnya hehe...sama-sama kudu suka baca sih..

      Delete
  12. Haaa aku jadi pengin ngetik santai kayak gitu tapi nggak punya pohon untuk masang bandulannya itu. Mumet tapi asik ya kerjaan editor tu bagi yang udah passionnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi podo mba, aku punya dua pohon, hanya di pinggir jalan, malu nongkrong disitu hihihi

      Delete
  13. wah asyik juga ya bisa baca buku sebelum edar, tapi kalau kudu deadline memang mungkin pening juga ya, ampe mimpi buruk gitu

    ReplyDelete
  14. Wah, baru tahu mbak, kalau pekerjaan editor juga lumayan berat yak :3 Tapi pengen deh jadi freelance editor.

    Halo, Mbak Dewi. Salam kenal. Saya baru tahu kalau penulis AKD punya blog :D

    ReplyDelete
  15. Huhuhu.. saya amat tau bagaimana seorang editor musti ngedit naskah yang maaf "kadang" banyak yang belum layak... makanya saya belum berani bikin buku mak, masih perlu banyak belajar nih :)

    ReplyDelete
  16. editor itu harus jeli dan memiliki pengetahuan yang sangat luas. salut banget!

    ReplyDelete
  17. Kayaknya loveable ini anak penerbit agro ya, mba? Apa bukan ya?

    ReplyDelete
  18. Jadi pengen nulis untuk Loveable *kapaaaan*

    ReplyDelete
  19. jadi tahu pekerjaan editor ngapain aja, kereeennn!!!

    ReplyDelete
  20. Wow... kalau cinta, 24 jam sehari pun dijalanin ya, Mbak Dew... ira

    ReplyDelete
  21. Mbak Dewi, mohon maaf, setahuku mbak Muthia Esfand itu lulusan Sastra Asia Barat UGM. Hehehe. Kebetulan saya pernah ketemu beliau di kampus.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...